Independen, Akurat & Berimbang
Berita  

Proyek Bendungan Sarulla Disorot, Ready Mix Jadi Molen Kecil

Foto terkini yang didapatkan awak media, Selasa kemarin.

Tapanuli Utara — Persoalan teknis hingga informasi mengenai pola pengerjaan kembali mengemuka di proyek Bendungan Sarulla, Kecamatan Pahae Jae. Proyek yang menelan anggaran hampir Rp25 miliar itu kini menjadi perhatian setelah muncul dugaan pekerjaan disubkontrakkan kepada salah seorang warga Kecamatan Pahae Jae, penggunaan beton yang dipersoalkan, hingga material batu yang diduga tidak sesuai dengan ketentuan pekerjaan.

Informasi terbaru tersebut diperoleh media ini setelah melakukan penelusuran ke lokasi proyek pada Selasa, (15/9/2026). Pantauan tidak hanya menyangkut metode pengecoran, tetapi juga informasi mengenai nilai salah satu paket pekerjaan yang mencapai Rp9 miliar.

Berdasarkan informasi yang dipercaya dari warga sekitar, pekerjaan senilai Rp9 miliar tersebut diduga dikerjakan melalui subkontraktor dengan nilai sekitar Rp6 miliar. Selisih sekitar Rp3 miliar kemudian menjadi pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut, termasuk bagaimana mekanisme pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan dengan nilai pengerjaan demikian.

Persoalan lainnya terkait pada pekerjaan konstruksi bendungan yang berfungsi membendung debit air dalam jumlah besar. Untuk pekerjaan seperti itu, biasanya penggunaan Ready Mix  dan dalam RAB atau Rencana Anggaran Biaya semestinya terdapat alokasi anggaran dan kebutuhan material yang menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan.

Material batu juga ikut menjadi pantauan kemarin. Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa batu yang tercantum untuk pekerjaan bendungan dalam RAB adalah batu padas, sedangkan di lokasi proyek ditemukan penggunaan batu kali yang berada di sekitar aliran sungai.

Bagi masyarakat Pahae yang tinggal tidak jauh dari lokasi proyek, kehadiran pembangunan sebenarnya mendapat sambutan positif. Mereka berharap pembangunan tersebut memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat, dengan pengerjaan yang tidak mengambil keuntungan secara berlebihan serta tidak menimbulkan kerugian maupun dampak buruk bagi warga sekitar.

Sementara itu, pengawas proyek, Rinaldi Sianturi, sebelumnya kepada awak media memberikan penjelasan mengenai penggunaan molen kecil. Menurut Rinaldi, masyarakat tidak mengizinkan atau tidak memberikan akses jalan bagi kendaraan Ready Mix untuk melakukan mobilisasi menuju lokasi pekerjaan.

Karena kendala akses tersebut, kata Rinaldi, pelaksana menggunakan molen kecil untuk pekerjaan beton.

Saat dikonfirmasi ulang melalui sambungan telepon selular , mengenai sejumlah persoalan tersebut, termasuk penggunaan material batu kali, Rinaldi belum memberikan respons atau jawaban.

Mengenal Ready Mix dan Site Mix

Dalam konstruksi, Ready Mix merupakan beton yang proses pencampurannya dilakukan di batching plant berdasarkan komposisi yang telah ditentukan. Beton tersebut kemudian dikirim menuju lokasi pekerjaan menggunakan truck mixer.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Semen + pasir + batu pecah + air + admixture → batching plant → truck mixer → lokasi proyek → pengecoran.

Sistem Ready Mix memungkinkan takaran material dikontrol melalui proses batching. Metode tersebut juga memudahkan pengendalian mutu beton dan mampu menghasilkan beton dalam volume besar dengan waktu produksi yang relatif cepat.

Karena karakteristik tersebut, Ready Mix lazim digunakan untuk pekerjaan konstruksi seperti jalan beton, jembatan, gedung, bendungan, fondasi berukuran besar, serta berbagai pekerjaan struktur lainnya.

Beton Ready Mix pada umumnya memiliki mix design dan target mutu tertentu. Contohnya, beton dengan mutu fc’ 20 MPa, 25 MPa, 30 MPa, dan tingkat mutu lainnya sesuai kebutuhan struktur.

Berbeda dengan Ready Mix, Site Mix merupakan metode pencampuran beton yang dilakukan langsung di lokasi proyek. Beton tidak dikirim dari batching plant dalam kondisi sudah tercampur, melainkan material dibawa ke lokasi kemudian diproses menggunakan molen atau concrete mixer maupun peralatan pencampur lainnya.

Material yang digunakan meliputi semen, pasir, batu pecah, air, serta bahan tambahan apabila diperlukan.

Alur sederhananya adalah:

Material → ditakar di lokasi → dimasukkan ke mixer → beton segar → pengecoran.

Penggunaan Site Mix tidak otomatis menunjukkan bahwa mutu beton lebih rendah. Kualitas beton tetap sangat bergantung pada ketepatan penakaran material dan seberapa ketat proses pencampuran serta pengendaliannya dilakukan.

Potensi persoalan dapat muncul apabila penakaran material hanya mengandalkan perkiraan. Perubahan kadar air pada pasir juga harus diperhitungkan, sementara penambahan air perlu dikendalikan agar komposisi campuran tidak berubah dari kebutuhan yang telah ditetapkan.

Selain itu, urutan memasukkan material yang tidak konsisten, waktu pencampuran yang tidak memadai, penggunaan semen, pasir atau agregat yang tidak memenuhi spesifikasi, serta tidak dilakukannya pengujian beton yang diperlukan dapat memengaruhi mutu hasil akhir.

Satu hal penting perlu ditegaskan dalam membaca kondisi beton di lapangan: beton yang telah mengeras tidak selalu dapat dibedakan secara kasatmata hanya dari penampilannya apakah berasal dari Ready Mix atau molen kecil.

Karena itu, penilaian terhadap mutu dan metode produksi beton tidak cukup hanya berdasarkan tampilan permukaan beton yang sudah mengeras, tetapi membutuhkan pemeriksaan terhadap proses, material, spesifikasi, serta pengujian yang relevan. (Pembela M Butarbutar)