Ketapang, MWT – Kemarau panjang membawa dua wajah berbeda di Batu Tampin Desa Simpang Tiga Sembelangaan , Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Di satu sisi, masyarakat mempertahankan tradisi Nuba sebagai warisan leluhur untuk memohon turunnya hujan, sementara di sisi lain keramaian di hamparan pasir turut diwarnai aktivitas hiburan dan permainan yang disebut-sebut menyerupai Kekolok.
Tradisi adat Nuba kembali digelar masyarakat Desa Simpang Tiga Sembelangaan pada Minggu (30/08/2026). Ritual turun-temurun tersebut menjadi momentum untuk menjaga adat dan budaya sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat.
Nuba memiliki akar sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Ritual tersebut diwariskan oleh nenek moyang sebagai ikhtiar memohon hujan ketika musim kemarau melanda dan kondisi daratan mulai mengering.
Ritual itu kemudian berpadu dengan tradisi menuba ikan. Warga memanfaatkan getah akar tuba untuk membuat ikan mabuk sehingga dapat ditangkap menggunakan berbagai peralatan tradisional.
Di balik aktivitas tersebut, Nuba bukan semata-mata tentang menangkap ikan. Ada kerja kolektif yang mempertemukan laki-laki dan perempuan, generasi muda hingga orang dewasa dalam satu rangkaian kegiatan adat.
Persiapan ritual dilakukan sejak malam hari. Masyarakat terlebih dahulu menuju hutan belantara untuk mencari akar tuba yang nantinya digunakan dalam proses menuba ikan di sungai.
Akar tuba yang terkumpul dibawa ke lokasi ritual dan ditumpuk di atas hamparan pasir. Warga kemudian mengolahnya secara bersama-sama dengan cara memukul akar hingga hancur dan remuk agar getahnya keluar.
Akar yang telah hancur selanjutnya diperas ke dalam wadah berisi air. Dari proses tersebut muncul cairan tuba berwarna putih yang mengandung bahan alami dan dapat membuat ikan mabuk.
Cairan tersebut kemudian dibawa menggunakan sampan atau perahu kayu menuju bagian tengah sungai. Penyebaran cairan tuba dilakukan mengikuti arahan Kepala Suku, Kepala Tuba, atau pemangku adat setempat.
Sekitar setengah jam setelah cairan disebarkan, ikan mulai bermunculan ke permukaan sungai dalam kondisi mabuk. Warga yang telah menunggu di bagian hilir kemudian menangkap ikan menggunakan serapang, cauk, tombak, jaring, bahkan dengan tangan secara langsung.
Pemandangan tersebut menjadi gambaran kuat bagaimana pengetahuan leluhur masih dipertahankan melalui praktik yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama. Tradisi Nuba sekaligus menjadi ruang untuk merawat identitas budaya dan semangat gotong royong.
Namun, suasana di sekitar hamparan pasir tidak hanya berisi rangkaian kegiatan adat. Keramaian juga diikuti sejumlah aktivitas perdagangan dan hiburan yang menghadirkan berbagai lapak bagi warga yang datang.
Beragam dagangan terlihat di area tersebut, mulai dari buah-buahan hingga minuman. Di antara minuman yang disebut tersedia terdapat minuman keras jenis bir dan anggur merah.
Di tengah suasana tersebut, terdapat pula lapak yang menghadirkan permainan sejenis Kekolok. Aktivitas permainan itu menjadi salah satu bentuk hiburan yang turut menarik perhatian di tengah keramaian pelaksanaan Nuba.
Setiap lapak disebut dikenakan tarif sekitar Rp2,5 juta. Jumlahnya mencapai hampir 30 lapak lebih yang berada di kawasan hamparan pasir tersebut.
Kontras itu membuat pelaksanaan Nuba tahun ini tidak hanya menarik perhatian karena ritual adatnya. Di satu sisi, masyarakat berkumpul mempertahankan tradisi leluhur yang sarat makna, sedangkan di sisi lain muncul aktivitas hiburan dan permainan yang berlangsung bersamaan dengan keramaian tersebut.
Bagi masyarakat, Nuba tetap menjadi simbol ikhtiar menghadapi kemarau sekaligus ruang untuk mempertahankan warisan budaya. Sementara berbagai aktivitas di sekitar lokasi menjadi bagian lain dari wajah keramaian yang mengiringi pelaksanaan tradisi tersebut.
Perbedaan aktivitas itu memperlihatkan bagaimana sebuah ruang tradisi dapat berkembang menjadi pusat keramaian masyarakat. Tantangannya adalah memastikan nilai adat dan budaya yang menjadi ruh Nuba tetap menjadi bagian utama dari pelaksanaan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Tim)
