Kepergian bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang jejak panjang yang ditinggalkan. Itulah yang kini dirasakan keluarga besar almarhumah Mesinem binti Muhammad Kasiren, sosok perempuan sederhana yang menjalani hidupnya dengan penuh keteguhan dan kasih sayang.
Lahir pada 31 Desember 1942, Mesinem menutup usia pada 27 April 2026, tepat di usia 82 tahun. Ia pergi meninggalkan bukan hanya kenangan, tetapi juga sebuah keluarga besar yang menjadi bukti nyata dari dedikasi hidupnya: enam orang anak, 22 cucu, dan 18 cicit—sebuah garis keturunan yang tumbuh dari tangan seorang ibu yang tak pernah lelah mengasuh.
Dalam perjalanan hidupnya, Mesinem bukan hanya seorang ibu rumah tangga. Ia adalah pusat dari keluarga, tempat pulang bagi anak-anaknya, sekaligus penopang dalam diam. Bersama suaminya—yang telah lebih dulu wafat sekitar dua setengah tahun lalu dan semasa hidupnya merupakan pensiunan PTPN 4 Bandar Betsy, Simalungun—ia membangun kehidupan dari kesederhanaan, kerja keras, dan nilai-nilai kebersamaan.
Yang membuat kisah hidupnya semakin hangat untuk dikenang adalah kemampuannya hidup di tengah keberagaman. Mesinem pernah tinggal di lingkungan dengan berbagai latar belakang suku dan agama. Namun perbedaan itu tak pernah menjadi sekat. Justru di sanalah ia menunjukkan bahwa hidup rukun bukan sekadar kata-kata, melainkan sikap yang dijalani setiap hari. Kehangatan dan keramahannya membuat ia diterima di mana pun berada.
Bagi anak dan cucunya, Mesinem adalah sosok yang mengayomi. Ia dikenal penuh tanggung jawab, tidak banyak bicara, namun selalu hadir ketika dibutuhkan. Ia mengajarkan arti kebersamaan bukan lewat nasihat panjang, melainkan melalui contoh hidup sehari-hari—tentang kesabaran, keteguhan, dan kasih yang tulus.
Kini, setelah kepergiannya, yang tersisa bukan hanya duka. Ada rasa kehilangan yang dalam, namun juga rasa syukur karena pernah memiliki sosok seperti dirinya. Bagi keluarga, air mata saja tidak cukup untuk mengantarkannya. Doa-doa terus dipanjatkan, dengan harapan “mbah” tercinta mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Mesinem mungkin telah tiada, tetapi nilai-nilai yang ia tanamkan tetap hidup—dalam setiap langkah anak cucunya, dalam setiap kenangan yang terus diceritakan, dan dalam kebersamaan yang ia wariskan.
Karena sejatinya, seorang ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal, dalam hati yang ia besarkan. (Suwito)
