Independen, Akurat & Berimbang
Berita  

Trauma Usai Keracunan MBG, Siswi SMK di Karo Pilih Bawa Bekal

FOTO: Repro detik.com

Medan, MWT – Pengalaman buruk setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat Krismas Dayanti, 18, kapok. Siswi SMK Negeri 1 Berastagi, Kabupaten Karo, itu mengaku tidak lagi berani mengonsumsi makanan MBG dan memilih membawa bekal sendiri ketika kembali ke sekolah.

Saat ditemui di PICU RS Haji Medan, Rabu (18/8/2026), kondisi Krismas terlihat mulai membaik. Ia mengatakan sejumlah keluhan yang sebelumnya dirasakan sudah mereda.

“Hari ini aku udah makan dan baru bangun ini, kondisiku juga udah mulai membaik,” kata Krismas.

Perbaikan kondisi tersebut membuat Krismas berharap segera meninggalkan rumah sakit. Ia mengaku sudah tidak lagi merasakan sakit pada sejumlah bagian tubuhnya.

“Perutku udah nggak sakit, leherku udah nggak sakit, kepalaku juga udah nggak sakit lagi. Pengin cepat pulang,” ujarnya.

Namun, kesembuhan fisik belum sepenuhnya menghapus pengalaman yang membekas. Krismas mengaku trauma terhadap makanan MBG dan berencana membawa bekal dari rumah setelah kembali menjalani aktivitas sekolah.

“Nggak mau (MBG lagi), trauma. Bawa bontot (bekal) aja dari rumah kalau lapar,” kata Krismas.

Keluarga Panik Mencari Krismas

Selama menjalani perawatan di RS Haji Medan, Krismas mendapat pendampingan dari ayah dan kakaknya secara bergantian. Winda Apriati, 22, kakak Krismas, mengatakan keluarga sempat terkejut ketika mengetahui adiknya menjadi salah satu korban keracunan setelah menyantap menu MBG di sekolah.

Saat kabar tersebut diterima, keluarga langsung berpencar mencari keberadaan Krismas di rumah sakit. Winda saat itu sedang membersihkan rumah ketika mendapat informasi dari adiknya.

“Aku lagi bersih-bersih rumah terus Krismas bilang ‘kak, kami keracunan MBG’. Berpencarlah sama bapak dan adik nyari si Krismas ke rumah sakit, kan ada 4 rumah sakit ya, ketemunya di RS Efarina,” ujarnya.

Ketika pertama kali ditemukan, kondisi Krismas masih terlihat cukup baik. Ia masih tampak segar dan mampu berbicara. Namun, setiap kali mencoba makan, tubuhnya justru bereaksi dengan muntah.

“Awalnya kami lihat dia segar masih bisa ngomong. Tapi setiap makan dia muntah, nggak nerima dia,” lanjut Winda.

Kondisi Krismas kemudian tidak kunjung membaik. Ia bahkan sempat mengalami penurunan kesadaran sebelum akhirnya dirujuk ke RS Haji Medan pada Kamis (13/8/2026).

Menu Tahu Ikut Memicu Trauma

Setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif, kondisi Krismas berangsur membaik. Meski demikian, trauma terhadap makanan yang dikonsumsinya saat kejadian masih terbawa selama menjalani perawatan.

Winda mengatakan, salah satu pemicunya adalah menu tahu. Saat kejadian keracunan, tahu menjadi bagian dari menu MBG yang dikonsumsi Krismas. Ketika rumah sakit kembali menyajikan tahu untuk makan siang, Krismas sempat menolak karena teringat pengalaman tersebut.

“Dia sempat juga trauma, kan pas kejadian itu ada menu tahu di MBG-nya, jadi sempat makan siang di sini ada menu tahu juga. Jadi sempat takut dia bilang ‘nggak mau aku tahu, waktu itu nggak enak’,” ucap Winda.

Atas kejadian yang menimpa adiknya, Winda berharap kasus serupa tidak kembali terjadi. Ia meminta pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberikan perhatian lebih serius terhadap aspek kebersihan dalam proses penyediaan makanan.

Menurut Winda, program MBG pada dasarnya merupakan program yang baik. Namun, pelaksanaannya perlu disertai perhatian terhadap kebersihan agar pengalaman buruk seperti yang dialami Krismas tidak kembali terulang.

“Program ini sebenarnya bagus cuma cara pengerjaannya aja yang harus diperhatikan kebersihannya,” ucapnya. (red)