Independen, Akurat & Berimbang
Berita  

Tradisi Nuba di Muara Kayong: Ritual Adat di Tengah Kemarau untuk Menanti Hujan

Ketapang, MWT- Kemarau tidak hanya membuat sungai menyusut dan tanah mengering. Bagi masyarakat di Desa Muara Kayong, Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, musim kering juga menjadi penanda digelarnya sebuah tradisi leluhur yang sarat makna.

Pada Minggu (9/8/2026), masyarakat  Desa Muara Kayong kembali melaksanakan tradisi adat Noba atau Nuba. Ritual turun-temurun tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat untuk mempertahankan adat dan budaya sekaligus mempererat kebersamaan antarmasyarakat.

Tradisi Nuba diwariskan dari nenek moyang dan leluhur dengan tujuan memohon turunnya hujan agar daratan kembali dibasahi. Karena berkaitan erat dengan musim kering, ritual tersebut memang hanya dilaksanakan ketika kemarau berlangsung.

Di balik ritual itu terdapat pula tradisi menuba ikan. Masyarakat memanfaatkan getah akar tuba untuk membuat ikan mabuk atau keracunan sehingga lebih mudah ditangkap.

Namun, Nuba bukan sekadar kegiatan menangkap ikan. Di dalamnya terdapat semangat gotong royong dan kerja sama yang melibatkan masyarakat seluruhnya.

Rangkaian ritual biasanya dimulai pada malam hari. Masyarakat berharap, setelah ritual dilaksanakan, hujan akan turun pada keesokan harinya.

Persiapan diawali dengan perjalanan menuju hutan belantara untuk mencari akar tuba. Setelah akar ditemukan dan dikumpulkan, bahan tersebut dibawa ke lokasi yang akan digunakan untuk pelaksanaan ritual di sungai dan ditumpuk di atas hamparan pasir.

Kaum laki-laki maupun perempuan, termasuk kalangan muda dan dewasa, kemudian bekerja bersama untuk mengolah akar tersebut. Akar tuba dipukul hingga hancur dan remuk agar getahnya keluar.

Akar yang telah dihancurkan selanjutnya diperas ke dalam wadah berisi air. Dari proses itu dihasilkan cairan tuba berwarna putih yang mengandung racun alami yang dapat mematikan atau membuat ikan mabuk.

Setelah cairan tuba siap, hasil perasan tersebut dibawa menggunakan sampan atau perahu kayu. Perahu kemudian diarahkan menuju bagian tengah sungai.

Di lokasi yang telah ditentukan, cairan hasil perasan akar tuba disebarkan atau dimasukkan ke aliran sungai mengikuti arahan Kepala Suku, Kepala Tuba, atau pemangku adat setempat.

Sekitar setengah jam setelah cairan tuba disebarkan, berbagai jenis ikan mulai bermunculan ke permukaan akibat terkena racun alami tersebut.

Sementara itu, masyarakat lainnya telah menunggu di bagian hilir sungai. Mereka bersiap menangkap ikan yang dalam kondisi mabuk atau keracunan akibat cairan tuba.

Aktivitas tersebut berlangsung menggunakan beragam sarana tradisional. Banyak masyarakat turun ke sungai dengan sampan atau perahu yang dilengkapi alat tangkap seperti serapang, cauk, tombak, dan jaring. Sebagian lainnya bahkan menangkap ikan secara langsung menggunakan tangan.

Tradisi Nuba dengan demikian tidak hanya memperlihatkan cara masyarakat memanfaatkan pengetahuan leluhur dalam menghadapi musim kemarau, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk menjaga adat, budaya, dan semangat gotong royong masyarakat di Desa Muara Kayong. (Supardianto)