Independen, Akurat & Berimbang
Berita  

Saluran Irigasi Tertutup, Petani Taput Terancam Gagal Tanam

Taput, MWT — Ketika musim tanam mulai dipersiapkan, persoalan air justru menghadang petani di Desa Parsaoran Samosir, Kecamatan Pahae Jae, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Rehabilitasi Bendungan Aek Sarulla yang tengah berlangsung mendapat perhatian warga karena pekerjaan proyek disebut berdampak pada kelancaran aliran air menuju lahan pertanian.

Proyek tersebut memiliki nilai anggaran Rp24,4 miliar dan bersumber dari UPTD Pengelolaan Sibundong Batangtoru, Dinas Sumber Daya Air Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Keluhan warga terutama berkaitan dengan saluran irigasi yang berada di sekitar lokasi pekerjaan. Sejumlah warga menyebut saluran tersebut sempat tertutup sehingga air yang seharusnya mengalir menuju areal persawahan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Aliran air yang hendak mengalir ke areal persawahan kami macet karena saluran irigasi tertutup akibat proyek,” ujar seorang warga bermarga Sihite saat ditemui di lokasi.

Kondisi serupa disampaikan warga lainnya, Boru Siregar. Ia mengatakan masyarakat saat ini tengah mempersiapkan penanaman padi. Namun, rencana tersebut terganggu karena pasokan air menuju lahan persawahan belum lancar akibat pekerjaan pembangunan bendungan.

Menanggapi keluhan tersebut, Pengawas Proyek Rehabilitasi Bendungan Aek Sarulla, Rinaldi Sianturi, mengatakan pihak pelaksana telah mengambil langkah untuk mengembalikan aliran air ke kawasan pertanian warga.

Saat dikonfirmasi wartawan di lokasi pekerjaan pada Rabu, (2/9/2026), Rinaldi menyatakan pihaknya telah merespons langsung keluhan masyarakat.

“Kami sudah mengalirkan air ke wilayah pertanian warga dan langsung merespons keluhan warga. Saat ini air sudah kami jalankan,” ujar Rinaldi.

Sementara itu, Kepala Desa Parsaoran Samosir, Fernando Siburian, mengatakan persoalan tersebut telah dibahas bersama warga dan pihak pelaksana proyek.

Menurut Fernando, tertutupnya saluran irigasi bukan merupakan tindakan yang disengaja untuk menghentikan pasokan air. Kondisi tersebut terjadi karena pekerja harus melakukan penutupan sementara ketika proses pembangunan tembok saluran berlangsung.

“Yang namanya pembangunan tembok saluran, para pekerja memang harus menutup sementara agar tidak merusak pekerjaan,” katanya.

Fernando menilai persoalan tersebut tidak berlarut-larut karena langsung disikapi dengan mencari solusi terhadap kebutuhan air bagi warga yang memiliki areal persawahan.

Di sisi lain, ia meminta masyarakat menyambut positif pembangunan Bendungan Aek Sarulla. Menurutnya, keberadaan bendungan tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan banjir sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Pantauan media di lokasi menunjukkan aktivitas pekerjaan masih berlangsung. Sejumlah pekerja terlihat melakukan pengecoran dinding saluran, sementara dua unit alat berat digunakan untuk menggali saluran agar air kembali dapat dialirkan menuju lahan pertanian masyarakat.

Rinaldi menjelaskan progres pekerjaan saat ini belum dapat disebut mencapai 30 persen. Salah satu kendalanya, arus air sempat meningkat dan hampir mencapai tembok pembatas yang telah dibangun.

Dengan aliran air yang kembali diarahkan menuju lahan pertanian, keluhan warga terkait kebutuhan irigasi kini telah mendapat respons dari pihak pelaksana. Sementara pekerjaan rehabilitasi Bendungan Aek Sarulla tetap berlanjut di tengah upaya menjaga kebutuhan air bagi areal persawahan masyarakat. (TU1)