Berita  

Polda Kepri Mulai Selidiki Kasus Gagal Berangkat Kontingen Pesparawi  

Koor di Bandara pasca gagal berangkat

Batam , MWT – Kasus gagalnya keberangkatan kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Provinsi Kepulauan Riau menuju ajang Pesparawi Nasional di Manokwari, Papua Barat, resmi memasuki proses hukum. Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau telah menerima laporan dari salah satu peserta dan saat ini tengah melakukan penyelidikan.

Kepala Bidang Humas Polda Kepri, Kombes Pol. Nona Pricillia Ohei, membenarkan bahwa laporan tersebut telah diterima sejak 23 Juni 2026 dan kini ditangani penyidik.

“Benar, laporan sudah kami terima dan saat ini sedang dalam proses penyelidikan. Perkembangannya nanti akan kami informasikan,” ujar Nona, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan, penyelidikan dilakukan untuk mengungkap penyebab gagalnya keberangkatan kontingen Kepri sehingga tidak dapat mengikuti Pesparawi Nasional di Manokwari.

Menurutnya, penyidik akan menelusuri seluruh rangkaian peristiwa, termasuk memanggil pihak-pihak yang mengetahui maupun terlibat dalam proses pemberangkatan kontingen.

“Saat ini penyidik sedang mendalami kejadian tersebut yang mengakibatkan kontingen Kepri tidak bisa berangkat mengikuti Pesparawi Nasional. Pihak-pihak terkait akan dipanggil untuk dimintai keterangan,” katanya.

Gagal Berangkat

Kasus ini menjadi perhatian publik setelah video para peserta kontingen Pesparawi Kepri bernyanyi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, viral di media sosial. Lagu rohani yang mereka nyanyikan menjadi simbol kekecewaan sekaligus keteguhan hati setelah gagal melanjutkan perjalanan menuju Manokwari.

Salah seorang peserta sekaligus Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, Ria Ukur Rindu Tondang, mengungkapkan bahwa persoalan bermula dari tiket penerbangan yang diduga tidak valid.

Menurut Ria, seluruh persiapan telah dilakukan jauh hari. Pada 24 Mei 2026, tim Paduan Suara Wanita (PSW) Kota Tanjungpinang telah mengikuti penampilan uji coba di Gedung Aisyah, Tanjungpinang. Dalam kesempatan tersebut, panitia juga menyerahkan tiket penerbangan kepada seluruh peserta.

“Sebagai Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, saya bangga karena untuk pertama kalinya ada kontingen dari Kota Tanjungpinang yang mewakili Provinsi Kepri di tingkat nasional,” ujarnya.

Dugaan Masalah Tiket

Ria menjelaskan, pada 16 Juni 2026 seluruh kontingen mengikuti acara pelepasan resmi di Batam yang dihadiri Wakil Gubernur Kepri, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama, dan sejumlah pejabat terkait.

Namun, pada 20 Juni muncul informasi bahwa tiket yang telah diterima diduga bermasalah sehingga keberangkatan terancam batal. Meski demikian, hingga 24 Juni tidak ada pemberitahuan resmi agar rombongan menghentikan perjalanan.

Kontingen tetap menuju Bandara Hang Nadim Batam untuk memastikan status tiket. Setibanya di bandara, mereka mengetahui tiket tersebut memang tidak dapat digunakan.

Menurut Ria, saat itu beberapa kontingen lain telah memperoleh tiket pengganti dan berhasil berangkat lebih dahulu, sementara rombongannya masih tertahan.

Ia kemudian meminta penjelasan tertulis kepada pengurus LPPD Provinsi. Sekretaris Umum LPPD Provinsi disebut memberikan surat yang menyatakan keberangkatan mereka diundur menjadi 25 Juni 2026.

 Tertahan di Soekarno-Hatta

Pada 25 Juni 2026, rombongan kembali datang ke bandara menggunakan seragam resmi. Awalnya mereka diinformasikan tidak tersedia tiket, namun beberapa saat kemudian memperoleh tiket penerbangan Batam–Jakarta dengan janji tiket lanjutan menuju Manokwari akan diterbitkan kemudian.

Berbekal kepastian tersebut, rombongan berangkat ke Jakarta. Bahkan, pihak kontingen telah berkoordinasi dengan panitia di Manokwari agar jadwal penampilan dapat diundur apabila mereka tiba terlambat.

Harapan itu akhirnya pupus setelah rombongan tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Mereka mengaku harus berpindah-pindah dari Terminal 1C ke Terminal 1B, kemudian Terminal 2 hingga Terminal 3 untuk mengurus keberangkatan.

“Peserta kami banyak yang sudah berusia lanjut. Mereka harus berpindah-pindah terminal sambil membawa koper tanpa didampingi official,” kata Ria.

Sesampainya di Terminal 3, mereka kembali menerima kabar bahwa tiket lanjutan menuju Manokwari masih berstatus booking dan belum diterbitkan (issued), sehingga perjalanan tidak dapat dilanjutkan.

“Kondisi itu membuat seluruh peserta menangis, kecewa, bahkan emosional. Saya sebagai ketua tidak mampu lagi menenangkan semuanya,” ujarnya.

Simbol Keteguhan

Di tengah situasi tersebut, para peserta mengabadikan momen dengan menyanyikan lagu rohani di area bandara. Video itu kemudian viral dan menuai simpati masyarakat.

Ria menegaskan aksi tersebut bukan sekadar bentuk protes, melainkan ungkapan iman dan keteguhan hati meski gagal tampil di ajang nasional.

“Kami hanya ingin bernyanyi memuji Tuhan. Kami percaya Tuhan akan membuka jalan yang lebih besar ke depannya,” katanya.

Ia berharap peristiwa yang dialami kontingen Pesparawi Kepri menjadi evaluasi bersama agar penyelenggaraan kegiatan serupa di masa mendatang lebih profesional, transparan, dan tidak merugikan para peserta.

“Tuhan akan menguatkan kami. Kami berharap peristiwa ini membuka mata para pemimpin agar menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Kami akan tetap bersuara demi kebaikan,” tutupnya. (Zul)