Independen, Akurat & Berimbang
Berita  

Fondasi Proyek Irigasi Simokmok Rp3,54 M Dibongkar, Ada Apa?

Kondisi terkini pantauan di lokasi, Rabu (9/9/2026)

Tapanuli Utara, MWT — Sebuah fondasi baru harus dibongkar ketika proyek irigasi bernilai miliaran rupiah tengah berjalan. Di balik pembongkaran itu, terdapat persoalan serius yang kini menjadi perhatian: dugaan ketidaksesuaian ukuran pekerjaan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan gambar kerja proyek.

Peristiwa tersebut terjadi dalam proyek peningkatan dan rehabilitasi saluran Daerah Irigasi (D.I.) Simok-Mok di Desa Sitabotabo Toruan, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Proyek yang dibiayai melalui APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026 itu memiliki nilai kontrak Rp3.540.432.324,35. Pekerjaan tercantum dalam kontrak Nomor 602.1/333/UPTD-PSDA.SBT/VI/2026, dilaksanakan CV Calanda Jaya Energy dengan masa pelaksanaan 150 hari.

Sorotan bermula dari pekerjaan galian fondasi. Di lapangan, sumber informasi menyebut kedalaman fondasi yang dipersyaratkan sekitar 30 sentimeter. Namun, hasil pantauan yang terlihat lebih kurang sekitar 15 sentimeter.

Selisih ukuran tersebut bukan sekadar persoalan teknis di lapangan. Bagian fondasi yang telah dikerjakan akhirnya dibongkar.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara, Gibson Panjaitan, membenarkan pembongkaran tersebut. Ia menyatakan keputusan itu berasal darinya setelah pekerjaan dinilai tidak memenuhi ketentuan dalam RAB.

“Benar, saya yang menyuruh fondasi irigasi Simok Mok untuk dibongkar karena tidak sesuai dengan RAB,” kata Gibson kepada sejumlah awa media pada 26 Agustus 2026.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Utara, Gibson Panjaitan saat memantau proyek. 

Menurut Gibson, pekerjaan konstruksi yang ukuran atau dimensinya menyimpang dari gambar kerja harus diperbaiki. Ia juga menyebut pengawasan di lapangan telah diarahkan untuk memeriksa pekerjaan proyek tersebut.

Rp3,54 Miliar untuk Tiga Kilometer Saluran

Nilai kontrak membuat persoalan spesifikasi pekerjaan menjadi semakin penting untuk ditelusuri. Proyek tersebut bernilai lebih dari Rp3,5 miliar, sementara panjang pekerjaan sekitar 3 kilometer.

Dalam pekerjaan yang menggunakan anggaran daerah, kesesuaian antara pekerjaan fisik dan dokumen kontrak menjadi salah satu aspek yang menentukan apakah pelaksanaan proyek berjalan sebagaimana direncanakan.

Sebelum fondasi dibongkar, kondisi proyek telah mendapat sorotan pada pertengahan Agustus 2026. Pantauan lapangan saat itu menemukan dugaan ketidaksesuaian pada galian fondasi.

Pada waktu yang sama, besarnya anggaran rehabilitasi saluran tersebut juga menjadi pertanyaan di tengah masyarakat.

Seorang warga setempat mempertanyakan nilai anggaran proyek. Ia juga menyebut pekerjaan sempat berlangsung sekitar dua minggu sebelum para pekerja tidak lagi terlihat di lokasi untuk sementara waktu.

Namun, dugaan mengenai besarnya anggaran maupun kemungkinan adanya mark-up tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kondisi fisik yang terlihat di lapangan.

Untuk membuktikannya diperlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap dokumen kontrak, RAB, harga satuan, volume pekerjaan, progres fisik, pembayaran, serta hasil pengukuran teknis. Dengan demikian, indikasi penyimpangan tidak berhenti pada dugaan, tetapi dapat diuji berdasarkan data dan dokumen yang sah.

Fondasi Salah Ukuran, Pekerjaan Dibongkar

Pembongkaran fondasi menjadi titik penting dalam proyek ini. Sebab, tindakan tersebut menunjukkan adanya bagian pekerjaan yang menurut pejabat berwenang harus dikoreksi sebelum pekerjaan dilanjutkan.

Pada akhir Agustus 2026, pekerjaan kembali dilanjutkan setelah fondasi yang dinilai tidak sesuai ketentuan dibongkar.

Pertanyaannya kemudian bergeser. Bukan lagi semata-mata apakah fondasi telah diperbaiki, melainkan apakah setelah pembongkaran seluruh pekerjaan benar-benar kembali dikerjakan sesuai RAB, gambar kerja, dan spesifikasi teknis yang menjadi bagian dari kontrak.

Hal lain yang juga perlu dipastikan adalah bagaimana pencatatan pekerjaan yang telah dibongkar tersebut dalam administrasi proyek. Pemeriksaan dokumen progres dan hasil pengukuran menjadi penting untuk melihat kesesuaian antara pekerjaan yang benar-benar terpasang dengan pekerjaan yang dilaporkan dan dibayarkan.

Irigasi Layani Areal 1.003 Hektare

Persoalan spesifikasi konstruksi menjadi semakin strategis karena D.I. Simok-Mok bukan sekadar proyek pembangunan saluran biasa.

Berdasarkan keterangan pejabat UPTD PSDA Sibundong Batang Toru kepada sejumlah awak media, daerah irigasi tersebut memiliki luas areal baku sekitar 1.003 hektare. Sumber airnya berasal dari Sungai Aek Sitabotabo.

Rehabilitasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi layanan jaringan irigasi yang mengalami penurunan akibat kerusakan pada bangunan air maupun saluran pembawa.

Pemerintah menyatakan pekerjaan diarahkan agar jaringan kembali berfungsi maksimal. Target lainnya adalah menghasilkan bangunan saluran pasangan yang memenuhi standar perencanaan sekaligus memperhatikan aspek keamanan konstruksi.

Karena itu, kualitas pekerjaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tujuan proyek. Kesalahan dimensi pada bagian konstruksi, apabila benar terjadi dan tidak dikoreksi, berpotensi memengaruhi kualitas bangunan secara keseluruhan.

Dalam kasus ini, pembongkaran fondasi setidaknya menunjukkan bahwa koreksi telah dilakukan terhadap bagian pekerjaan yang dinilai tidak sesuai.

Rekanan Belum Menjawab Sorotan

Di tengah munculnya persoalan tersebut, penjelasan dari pihak pelaksana menjadi bagian penting untuk melengkapi informasi. Rekanan atau pelaksana proyek,belum memberikan keterangan meski telah berkali-kali dihubungi guna kejelasan proyek tersebut.

Ketiadaan penjelasan dari pelaksana membuat sejumlah pertanyaan teknis masih terbuka. Di antaranya, bagaimana pekerjaan awal dapat terlaksana dengan ukuran yang disebut tidak sesuai, bagaimana proses pengawasan berlangsung, serta bagaimana koreksi pekerjaan tersebut dicatat dalam administrasi proyek.

Pertanyaan lain yang tidak kalah penting menyangkut kesesuaian antara pembayaran dan kondisi fisik. Apakah volume yang telah diperhitungkan dalam progres pekerjaan benar-benar sama dengan volume yang terpasang setelah dilakukan pembongkaran dan perbaikan?

Jawabannya hanya dapat diperoleh melalui pemeriksaan dokumen dan pengukuran teknis, bukan semata-mata dari pengamatan visual.

Dokumen RAB, gambar kerja, spesifikasi teknis, laporan progres, berita acara pembayaran, serta hasil pengukuran lapangan menjadi instrumen penting untuk menguji persoalan tersebut secara objektif.

Pada akhirnya, keberhasilan proyek D.I. Simok-Mok tidak cukup diukur dari apakah pekerjaan selesai dalam batas waktu kontrak. Proyek senilai Rp3,54 miliar itu juga harus dapat dipertanggungjawabkan dari sisi mutu konstruksi, kesesuaian volume, spesifikasi teknis, dan penggunaan APBD.

Terlebih, jaringan irigasi tersebut berkaitan langsung dengan layanan pengairan untuk areal pertanian sekitar 1.003 hektare. Karena itu, setiap rupiah anggaran dan setiap bagian konstruksi yang terpasang menjadi bagian penting dari pertanggungjawaban proyek kepada publik. (Pembela M. Butarbutar)