Independen, Akurat & Berimbang
Berita  

Air Nongsa Tersendat, Warga Menagih Jawaban Pengelola KEK

Batam, MWT  — Ratusan warga Teluk Mata Ikan, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, mendatangi kantor pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa pada Sabtu (19/9). Mereka datang bukan sekadar membawa keluhan, tetapi mempertanyakan mengapa kebutuhan paling dasar—air untuk mandi, mencuci dan sanitasi—justru terganggu ketika kawasan di sekitar mereka terus berkembang.

Persoalan itu kemudian membuka gambaran yang lebih luas. Gangguan air di Teluk Mata Ikan ternyata berkelindan dengan menurunnya air baku Waduk Nongsa, kapasitas produksi IPAM, persoalan teknis pompa booster, pengaturan jaringan hingga kebutuhan mencari sumber air alternatif.

Yang juga menarik perhatian warga adalah kondisi pasokan di kawasan KEK. Menurut warga, aliran di kawasan tersebut masih tersedia ketika permukiman di sekitarnya mengalami gangguan.

Pertanyaan itu belum serta-merta menunjukkan adanya perbedaan perlakuan dalam distribusi. Namun, perbedaan kondisi pelayanan tersebut menjadi salah satu alasan warga meminta penjelasan ketika mereka mendatangi pengelola KEK Nongsa.

Masalah Air Sudah Terlihat Sebelum Aksi Warga

Gangguan yang dirasakan warga pada September tidak muncul tanpa tanda sebelumnya.

Pada 8 Agustus 2026, BP Batam telah menyatakan volume Waduk Nongsa mengalami penurunan akibat rendahnya curah hujan di daerah tangkapan air. BP Batam saat itu juga mengakui kondisi tersebut berdampak terhadap kapasitas produksi IPAM Nongsa.

Sebulan kemudian, tekanan terhadap sistem semakin terlihat. Pada 18 September, PT Air Batam Hilir (ABH) kembali menyesuaikan aliran distribusi IPAM Nongsa menjadi 40 liter per detik (Lps), dari sebelumnya 45 Lps.

Catatan distribusi yang disampaikan ABH menunjukkan produksi IPAM Nongsa sebelumnya berada pada 65 Lps pada 12 Agustus, turun menjadi 60 Lps lima hari kemudian, kembali menjadi 50 Lps pada 24 Agustus, lalu 45 Lps pada 8 September.

Dengan demikian, ketika warga mendatangi kantor pengelola KEK pada 19 September, persoalan pasokan air sudah berada dalam rangkaian penyesuaian produksi dan distribusi.

ABH sebelumnya juga memperingatkan bahwa apabila debit Waduk Nongsa terus menurun, waduk tersebut berpotensi tidak lagi dapat digunakan sebagai sumber air baku IPAM Nongsa. Sebagai mitigasi, ABH menyiapkan pemanfaatan pasokan dari sistem Waduk Duriangkang.

Warga Bergerak, Tangki Air Dikerahkan

Ketika gangguan semakin terasa, ratusan warga Teluk Mata Ikan bergerak mendatangi kantor pengelola KEK Nongsa.

Gangguan tersebut langsung berdampak terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat. Kebutuhan mandi, mencuci dan sanitasi ikut terganggu.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Kepri, Kombes Pol Dr Nona Pricillia Ohei, mengatakan kepolisian kemudian berkoordinasi dengan PT Air Batam Hilir untuk memenuhi kebutuhan air warga.

Bantuan melalui mobil tangki telah disalurkan sejak malam sebelum aksi. Distribusinya dilakukan secara bertahap ke RT 01 hingga RT 04.

“Kapolsek mengambil langkah mitigasi dengan berkoordinasi dengan pihak ABH untuk memberikan bantuan air bersih kepada warga,” kata Nona melalui sambungan telepon, Ahad (20/9).

Namun, Nona menepis anggapan bahwa persoalan hanya terjadi pada permukiman masyarakat.

“Memang ada kerusakan. Jadi kalau disampaikan kondisi air di KEK itu baik-baik saja, itu tidak. Semua kena dampaknya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memberi konteks penting terhadap keluhan warga. Di satu sisi, warga melihat adanya perbedaan kondisi aliran di lapangan. Di sisi lain, kepolisian menyatakan gangguan juga berdampak pada kawasan KEK.

Dengan demikian, persoalan yang tersisa bukan hanya soal ada atau tidaknya air, tetapi bagaimana gangguan itu terjadi pada sistem jaringan dan bagaimana distribusinya diterima setiap wilayah.

Waduk Menyusut, Produksi Ikut Tertekan

Humas PT Air Batam Hilir, Ginda Alamsyah, menjelaskan sumber persoalan dari sisi penyedia layanan.

Menurut Ginda, ketersediaan air baku di Waduk Nongsa menurun akibat rendahnya curah hujan. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi kapasitas produksi IPAM Nongsa dan pola distribusi air ke wilayah Nongsa serta kawasan sekitarnya.

“Bagi masyarakat, air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda. Karena itu, setiap keluhan yang disampaikan warga menjadi perhatian kami,” kata Ginda.

ABH bersama BU SPAM-BP Batam kemudian menjalankan sejumlah mitigasi. Pengaturan jaringan, optimalisasi sistem dan distribusi menggunakan mobil tangki dilakukan untuk pelanggan yang terdampak.

Khusus Teluk Mata Ikan, mobil tangki tetap disiagakan selama aliran melalui jaringan perpipaan belum pulih sepenuhnya.

Tetapi persoalannya tidak berhenti pada distribusi menggunakan tangki.

ABH bersama BU SPAM-BP Batam juga memperkuat pasokan melalui jalur Duriangkang menuju Nongsa. Salah satu instrumen yang digunakan adalah pompa booster yang sebelumnya mengalami kendala teknis.

Pompa tersebut mulai beroperasi pada 19 September.

Setelah booster berjalan, sebagian warga mulai merasakan kembali aliran air. RT 01 dan RT 02 termasuk wilayah yang mulai menerima pasokan.

“Setelah pengoperasian booster, aliran mulai kembali dirasakan di sejumlah bagian wilayah Teluk Mata Ikan, di antaranya RT 01 dan RT 02,” ujar Ginda.

Namun, pemulihan belum menyentuh seluruh wilayah.

RT 03 dan RT 04 yang berada di ujung jaringan masih membutuhkan penanganan. Tim teknis terus melakukan pengaturan dan pemantauan agar tambahan suplai dapat menjangkau wilayah terdampak secara bertahap.

Di titik inilah persoalan teknis bertemu dengan persoalan pelayanan. Sistem secara keseluruhan masih memiliki suplai, tetapi tekanan dan posisi pelanggan dalam jaringan menentukan apakah air benar-benar sampai ke rumah warga.

Tangki Bukan Jawaban Permanen

ABH memastikan mobil tangki tetap disiapkan selama proses pemulihan. Namun perusahaan juga menegaskan bahwa skema tersebut hanya bersifat sementara.

“Kami memahami bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan sementara, tetapi mengharapkan air kembali mengalir melalui jaringan secara normal,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena bantuan tangki pada dasarnya tidak menyelesaikan persoalan jaringan. Ia hanya menjaga kebutuhan dasar masyarakat selama sistem perpipaan belum kembali bekerja secara normal.

ABH bersama BU SPAM-BP Batam karena itu terus mengoptimalkan suplai dan memulihkan distribusi ke seluruh wilayah Teluk Mata Ikan.

TMA Waduk Nongsa 5,96 Meter

Di tengah persoalan distribusi, BP Batam terus memantau kondisi waduk.

Waduk Nongsa menjadi salah satu titik yang mendapat perhatian khusus karena Tinggi Muka Air (TMA)-nya terus menurun. Berdasarkan pemantauan, TMA Waduk Nongsa berada pada level 5,96 meter.

Kondisi tersebut mendorong BP Batam dan PT ABH melakukan pengaturan pengambilan air baku untuk mempertahankan cadangan yang tersedia di tengah fenomena El Nino.

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, memahami keresahan masyarakat Nongsa. Ia bahkan menginstruksikan tim turun langsung ke area sekitar waduk untuk menindaklanjuti kondisi tersebut.

“Kami terus memantau kondisi waduk setiap hari. Pengaturan produksi juga terus dilakukan sebagai langkah antisipasi agar cadangan air baku dapat bertahan lebih lama, terutama selama kondisi cuaca masih minim hujan. Pada prinsipnya, kebutuhan masyarakat tetap menjadi perhatian utama kami,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

BP Batam bersama PT ABH juga menyalurkan air menggunakan mobil tangki, terutama bagi wilayah yang alirannya belum terpenuhi secara maksimal.

Penguatan suplai menuju Nongsa menjadi langkah lain yang dilakukan. Setelah sistem pendukung tersebut beroperasi, aliran kepada masyarakat diharapkan kembali meningkat secara bertahap.

Batam Masih Punya Margin, Tetapi Nongsa Tetap Rentan

Ada satu angka yang sekilas memberikan gambaran berbeda.

Amsakar menyebut produksi air bersih Batam secara keseluruhan masih berada di atas kebutuhan rata-rata. Dengan tingkat kehilangan air sekitar 16 persen, volume efektif yang masuk ke sistem distribusi mencapai sekitar 3.780 Lps.

Sementara kebutuhan rata-rata masyarakat berada pada sekitar 3.700 Lps.

Secara matematis, masih terdapat margin sekitar 80 Lps di atas kebutuhan rata-rata.

Namun angka agregat Batam tersebut tidak otomatis menjawab persoalan di Teluk Mata Ikan.

Sebab, distribusi air tetap dipengaruhi sumber air baku, kapasitas produksi, kondisi jaringan, tekanan air serta posisi pelanggan dalam jaringan.

Karena itu, BP Batam tetap memberikan perhatian khusus kepada wilayah yang sumber air bakunya berasal dari waduk dengan TMA yang terus dipantau, terutama Nongsa dan Sei Harapan.

“Penurunan tampungan air baku memang terjadi seiring rendahnya intensitas hujan. Kondisi tersebut akan terus kami evaluasi dan sejumlah skenario antisipasi juga telah disiapkan agar kebutuhan masyarakat tidak terganggu,” ujarnya lagi.

Pertanyaan Berikutnya: Jika Hujan Tetap Minim?

Persoalan Teluk Mata Ikan pada akhirnya membawa pertanyaan yang lebih jauh: apa yang terjadi apabila kondisi minim hujan tidak segera berakhir?

BP Batam menyatakan tidak ingin menunggu sampai situasi menjadi lebih sulit.

Sejumlah skenario disiapkan. Salah satunya melalui koordinasi tambahan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan potensi hujan di kawasan tangkapan air.

BP Batam juga menyiapkan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru berkapasitas 50 Lps di Sei Ladi untuk memperkuat daya dorong dan kontinuitas pasokan.

Selain itu, BP Batam mengkaji pemanfaatan sejumlah embung sebagai sumber air alternatif.

Pilihan yang dipertimbangkan antara lain memompa air dari embung untuk membantu mengisi waduk terdekat atau membangun fasilitas pengolahan air baru di sekitar embung agar air dapat digunakan untuk mendukung sistem distribusi.

Skenario pengaturan suplai secara bergilir juga masuk dalam opsi yang dikaji. Namun penerapannya akan bergantung pada kondisi jaringan perpipaan dan dampaknya terhadap masyarakat.

“Kami tidak ingin menunggu sampai kondisi menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, berbagai skenario sudah kami siapkan dan terus kami evaluasi berdasarkan perkembangan kondisi waduk di lapangan. Kami ingin pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik,” tegas Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano.

Dari Krisis Hari Ini ke Kebutuhan 2045

Persoalan air di Teluk Mata Ikan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang satu jaringan yang terganggu atau satu waduk yang menyusut.

BP Batam menyatakan sedang mengembangkan konsep Batam Integrated Total Water Management untuk memperkuat ketahanan air sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber air baku konvensional.

Sumber alternatif yang dikembangkan mencakup teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), air daur ulang, embung dan stormwater.

Dalam proyeksi jangka panjang, BP Batam menargetkan kontribusi SWRO sebesar 2.500 Lps, air daur ulang 500 Lps serta embung dan stormwater sebesar 500 Lps.

BP Batam juga mengkaji pengembangan waduk laut dan pemanfaatan sumber air dari wilayah sekitar Batam dengan total rencana kapasitas mencapai 3.000 Lps.

Seluruh skenario tersebut diarahkan untuk menghadapi kebutuhan air Batam yang diproyeksikan mencapai 7.149 Lps pada 2045. Kebutuhan itu diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan penduduk, kawasan hunian, industri, pusat data dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

“Ketahanan air merupakan kebutuhan bersama. Oleh karena itu, BP Batam tidak hanya fokus pada kondisi hari ini, tetapi juga menyiapkan sumber air baru untuk di masa mendatang,” tutup Denny.

Fakta yang Masih Menunggu Pembuktian di Lapangan

Dari rangkaian fakta tersebut, satu hal menjadi jelas: gangguan air Teluk Mata Ikan bukan persoalan yang berdiri sendiri.

Ada penurunan air baku Waduk Nongsa. Ada penyesuaian produksi IPAM. Ada gangguan teknis pada pompa booster. Ada wilayah yang mulai kembali menerima aliran, tetapi ada pula RT yang masih berada di ujung jaringan dan belum pulih sepenuhnya.

Pada saat bersamaan, BP Batam menyatakan produksi air Batam secara keseluruhan masih berada di atas kebutuhan rata-rata.

Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan tidak semata-mata terletak pada angka produksi total. Bagi warga Teluk Mata Ikan, ukuran paling sederhana justru berada di ujung jaringan: apakah air kembali mengalir secara normal ke rumah mereka, atau mereka masih harus menunggu mobil tangki datang.

Jawaban atas pertanyaan itu akan menjadi ukuran berikutnya bagi publik untuk melihat sejauh mana seluruh skenario mitigasi benar-benar bekerja di lapangan. (M Zukifli)