Deli Serdang, MWT – Komitmen membangun sekolah yang aman dan nyaman tidak cukup berhenti pada pembentukan kelembagaan maupun kesepakatan dalam forum diskusi. Implementasinya justru harus dimulai dari lingkungan satuan pendidikan, melalui kebiasaan sehari-hari yang melindungi peserta didik, menjaga martabat, serta menciptakan rasa aman bagi seluruh warga sekolah.
Pandangan tersebut disampaikan Bahtra Inganta, S.Pd., Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sibolangit, seusai mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Kelompok Kerja Penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) di Aula Lantai II Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang, Selasa (3/11/2026).
FGD tersebut diselenggarakan berdasarkan undangan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang, A. Fitriyan Syukri, S.STP., M.Si., merujuk surat Sekretariat Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 000.1.5/6527 tertanggal 2 November 2026.
Kegiatan itu mempertemukan Dewan Pendidikan, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) kecamatan, perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), serta wartawan.
Berdasarkan daftar hadir yang menjadi bahan pemberitaan, sejumlah pengurus MKKS dan K3S tidak tercatat menghadiri kegiatan tersebut. Sementara itu, sebagian besar peserta dari unsur OPD hadir melalui perwakilan dengan alasan pimpinan masing-masing memiliki tugas lain.
Di tengah berakhirnya kegiatan dan ketika sebagian besar peserta telah meninggalkan ruangan, Bahtra masih bertahan. Kepala sekolah yang berasal dari Kecamatan Sibolangit itu kemudian bersama rekannya dari Pancur Batu mengajak perwakilan wartawan berbincang singkat mengenai pentingnya membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.
Bahtra mengungkapkan, dirinya dipercaya Bupati Deli Serdang Asri Ludin Tambunan untuk menjabat sebagai Kepala UPT Satuan Pendidikan Formal SDN 101837 Suka Makmur, Kecamatan Sibolangit, berdasarkan SK tertanggal 6 Februari 2026. Sebelumnya, ia bertugas sebagai Kepala UPT Satuan Pendidikan Formal SDN 101839 Batu Sianggehen, Kecamatan Sibolangit.
Membangun Habit, Bukan Sekadar Prestasi
Bagi Bahtra, pembahasan harmonisasi dan keamanan sekolah memiliki relevansi kuat dengan cita-cita mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Menurutnya, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada pencapaian prestasi akademik. Pembentukan karakter dan kebiasaan positif atau habit juga perlu dirawat secara konsisten melalui keterlibatan guru dan seluruh warga sekolah.
Pendekatan tersebut, menurut Bahtra, dapat dimulai dengan membangun lingkungan pendidikan yang menjamin keselamatan, menghormati martabat anak, serta mendukung kesehatan psikologis peserta didik.
Baginya, perlindungan anak bukan sekadar pelengkap program pendidikan, melainkan bagian mendasar dari tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan.
Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab bersama untuk menciptakan lingkungan yang mampu mencegah intimidasi, pelecehan, kekerasan, maupun berbagai perlakuan yang merendahkan martabat anak.
Karena itu, jarak perjalanan dari Sibolangit menuju Lubuk Pakam tidak menjadi alasan baginya untuk mengabaikan forum yang membahas masa depan lingkungan pendidikan tersebut.
Tantangan Implementasi Pokja BSAN
Bahtra juga menyampaikan apresiasi terhadap pembentukan Kelompok Kerja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (Pokja BSAN) beserta kegiatan lanjutannya.
Namun, menurutnya, keberhasilan kelembagaan tersebut tidak cukup diukur dari terbentuknya struktur organisasi atau terselenggaranya pertemuan. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan menerjemahkan tujuan dan kesepakatan menjadi tindakan nyata yang dirasakan peserta didik maupun tenaga pendidik di setiap satuan pendidikan.
Perspektif tersebut menempatkan sekolah sebagai ruang yang harus memberikan perlindungan kepada anak sekaligus menghadirkan rasa aman bagi guru dan tenaga kependidikan dalam menjalankan tugasnya.
Dengan demikian, harmonisasi yang dibicarakan dalam FGD bukan sekadar upaya membangun hubungan baik antarwarga sekolah. Lebih dari itu, harmonisasi merupakan kebutuhan untuk membentuk ekosistem pendidikan yang sehat, saling menghormati, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan Pokja BSAN akan sangat ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan di tingkat sekolah. Sebab, budaya aman dan nyaman bukan hanya menjadi kesepakatan dalam ruang diskusi, melainkan harus hadir dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari setiap peserta didik. (Jenda Bangun)
