Opini  

Dari Amri Tambunan hingga Asri Ludin, Jejak Pengabdian Soelarno Berakhir pada Sebuah Kalimat

Catatan : Drs Jenda Bangun

Mantan Ketua FKDM Deli Serdang, Soelarno

Di panggung politik dan pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, nama Soelarno bukanlah sosok yang lahir dalam semalam. Selama hampir tiga dekade, ia dikenal sebagai figur yang begitu dekat dengan almarhum Drs. H. Amri Tambunan, pemimpin yang meletakkan banyak fondasi pembangunan daerah. Bersama jaringan relawan dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Soelarno ikut mengawal perjalanan politik Amri Tambunan hingga kembali dipercaya masyarakat memimpin Deli Serdang untuk periode kedua. Kedekatan itu kemudian menjelma menjadi sebuah pengabdian panjang yang terus ia lanjutkan, bahkan setelah tongkat estafet kepemimpinan berpindah kepada generasi berikutnya.

Perjalanan Soelarno dimulai pada 1998 ketika ia dipercaya memimpin Partai Pelopor di Kabupaten Deli Serdang. Masa reformasi menjadi ruang pembelajaran baginya untuk membangun komunikasi politik sekaligus memperkuat jaringan kemasyarakatan. Kepemimpinannya di Partai Pelopor berlangsung hingga 2009, sebuah periode yang membentuk karakter politiknya sebagai organisator lapangan.

Ketika Indonesia memasuki era pemilihan kepala daerah secara langsung, Soelarno menjadi bagian dari koalisi politik yang mengusung H. Amri Tambunan. Bersama sejumlah partai politik, Partai Pelopor turut memberikan dukungan dalam kontestasi Pilkada 2009. Hasilnya menjadi bagian dari sejarah politik Deli Serdang ketika Amri Tambunan kembali memperoleh mandat rakyat dengan perolehan sekitar 54 persen suara, mengungguli empat pasangan calon lainnya.

Selepas kemenangan itu, pengabdian Soelarno memasuki babak baru. Pada 2010, ia menerima amanah untuk menyosialisasikan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 Tahun 2006 tentang Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat. Amanah tersebut bukan sekadar menjalankan regulasi, melainkan membangun sebuah jejaring kewaspadaan masyarakat yang menjadi penghubung antara pemerintah dan warga dalam mendeteksi berbagai persoalan sosial sejak dini.

Dua tahun berselang, kerja panjang itu mulai menunjukkan hasil. Pada 2012, FKDM telah terbentuk di seluruh 22 kecamatan di Kabupaten Deli Serdang dengan jumlah anggota mencapai 265 orang. Mereka bekerja sebagai relawan, tanpa dukungan anggaran daerah pada masa awal pembentukannya. Semangat gotong royong menjadi modal utama organisasi tersebut menjalankan tugasnya.

Kesulitan itu perlahan mendapat perhatian pemerintah daerah. Pada 2013, FKDM mengajukan permohonan agar para anggotanya memperoleh tali asih sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka. Permohonan tersebut dikabulkan, dan bantuan yang semula bernilai Rp300 ribu setiap triwulan berkembang hingga mencapai Rp750 ribu per anggota pada tahun-tahun berikutnya. Bagi Soelarno, kebijakan itu bukan sekadar persoalan nominal, melainkan pengakuan terhadap kerja para relawan yang selama ini berada di balik layar.

Bagi Soelarno, FKDM bukan hanya menjalankan fungsi sebagai mata dan telinga pemerintah dalam menjaga stabilitas daerah. Di balik aktivitas yang senyap, organisasi itu juga membangun jaringan sosial yang menurutnya mampu menjaga komunikasi politik masyarakat menjelang setiap pemilihan kepala daerah.

Peran tersebut kembali diuji pada Pilkada 2014. Setelah H. Amri Tambunan mengakhiri masa jabatannya, estafet kepemimpinan diarahkan kepada H. Ashari Tambunan. Saat itu, pertarungan berlangsung ketat dengan sembilan pasangan calon. Soelarno mengaku kembali menggerakkan jaringan yang selama bertahun-tahun dibangun bersama FKDM. Hasilnya, Ashari Tambunan berhasil memenangkan kontestasi tersebut dengan sekitar 33 persen suara. Pada periode berikutnya, Ashari kembali dipercaya masyarakat memimpin Deli Serdang.

Di tengah perjalanan itu, Deli Serdang kehilangan salah satu tokoh besarnya. H. Amri Tambunan wafat pada 15 April 2016. Kepergian sosok yang selama ini dianggap Soelarno sebagai figur panutan meninggalkan duka mendalam. Bersama masyarakat, ia kemudian menginisiasi gerakan pengumpulan ribuan dukungan agar nama Amri Tambunan diabadikan menjadi nama rumah sakit daerah. Perjuangan itu membuahkan hasil ketika pada 21 November 2021 nama RSUD Drs. H. Amri Tambunan resmi ditetapkan.

Perjalanan pengabdian tersebut belum berhenti. Menjelang Pilkada 2024, Soelarno kembali mengaku menggerakkan jaringan yang selama ini dibangunnya untuk mendukung dr. H. Asri Ludin Tambunan, putra almarhum H. Amri Tambunan. Dalam pandangannya, dukungan itu merupakan kelanjutan dari ikatan emosional yang telah terjalin sejak era Amri Tambunan memimpin Deli Serdang. Kontestasi itu berakhir dengan kemenangan Asri Ludin Tambunan yang kemudian dipercaya memimpin Kabupaten Deli Serdang.

Selama lebih dari satu dekade, FKDM juga mengalami penyesuaian mengikuti perubahan regulasi melalui Permendagri Nomor 2 Tahun 2018 dan Permendagri Nomor 46 Tahun 2019. Struktur organisasi disederhanakan menjadi 117 anggota yang tersebar di tingkat kabupaten dan kecamatan. Soelarno tetap berada di garis depan organisasi hingga memasuki tahun 2026.

Namun, perjalanan panjang yang dibangun selama hampir tiga puluh tahun itu akhirnya berhenti bukan karena pergantian kepemimpinan, melainkan oleh sebuah kalimat yang ditulis secara spontan.

Di tengah krisis kelangkaan BBM yang melanda Deli Serdang pada 13–15 Juli 2026, Soelarno mengaku sedang melakukan pemantauan di sejumlah SPBU yang dipadati masyarakat. Dalam situasi yang menurut pengakuannya penuh kepanikan, ia membalas sebuah pesan di grup WhatsApp internal dengan kalimat yang kemudian menyebar luas ke ruang publik. Pesan itulah yang menjadi titik balik perjalanan panjangnya.

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang kemudian mengambil langkah dengan memberhentikan Soelarno dari jabatan Ketua FKDM. Bupati Deli Serdang, dr. H. Asri Ludin Tambunan, menegaskan bahwa pemerintah harus menjaga integritas, etika, dan kondusivitas daerah. Menurutnya, setiap mitra pemerintah berkewajiban menjaga komunikasi yang bertanggung jawab dan tidak menyampaikan pernyataan yang berpotensi memecah belah masyarakat. Sebagai tindak lanjut, jabatan Ketua FKDM diserahkan kepada Nasib Solichin berdasarkan Keputusan Bupati Deli Serdang Nomor 100.3.3.2/629/KPTS/2026.

Bagi Soelarno, akhir perjalanan itu diterimanya sebagai konsekuensi dari sebuah kekhilafan yang lahir dalam situasi yang menurut pengakuannya berlangsung tanpa pertimbangan matang. Ia bahkan menyatakan kesiapan mengembalikan kendaraan dinas yang selama ini digunakannya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap aset pemerintah daerah.

Sejarah sering kali mengingat seseorang bukan hanya karena bagaimana ia mengakhiri langkahnya, melainkan juga karena jejak panjang yang pernah ditinggalkannya. Sejak 1998 hingga 2026, Soelarno telah menjadi bagian dari dinamika politik, pemerintahan, dan perjalanan FKDM di Kabupaten Deli Serdang. Tiga nama pemimpin—Amri Tambunan, Ashari Tambunan, dan Asri Ludin Tambunan—menjadi bagian dari kisah pengabdiannya. Dan pada akhirnya, perjalanan hampir tiga dekade itu menjadi pengingat bahwa pengabdian yang panjang pun dapat berubah arah oleh satu kalimat yang terucap pada saat yang paling menentukan. (Penulis, Wakil Ketua SMSI Deli Serdang)