Jakarta, MWT – Ketua Umum Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia, Sunarno, mengungkap alasan organisasinya tidak mengikuti peringatan Hari Buruh Internasional yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat (1/5).
Menurut Sunarno, keputusan tersebut bukan didasari sikap antipati terhadap pemerintah, melainkan sebagai bentuk respons atas kondisi ketenagakerjaan di Indonesia yang dinilai masih memprihatinkan.
“Kami memang sengaja melakukan aksi di gedung DPR, tidak di Monas bersama Presiden. Kami juga diundang, tapi bukan berarti kami membenci pemerintahan,” ujar Sunarno saat audiensi dengan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia di kompleks parlemen, Jakarta Pusat.
Ia menegaskan, langkah itu diambil karena pihaknya ingin tetap menyuarakan aspirasi buruh di tingkat akar rumput yang hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan. “Dengan kondisi ketenagakerjaan yang masih sangat buruk, kami ingin terus menyampaikan tuntutan dari kawan-kawan di grassroot,” tambahnya.
Dalam peringatan May Day tahun ini, KASBI mengajukan sejumlah tuntutan. Salah satunya mendesak DPR segera membahas Undang-Undang Ketenagakerjaan yang baru sebagai tindak lanjut putusan Mahkamah Konstitusi. Sunarno menekankan pentingnya pelibatan serikat buruh dalam proses penyusunan regulasi tersebut.
“Jika tidak melibatkan serikat buruh, substansinya dikhawatirkan tidak akan sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan pekerja,” katanya.
Selain itu, KASBI juga menyoroti persoalan sistem pengupahan yang dinilai masih timpang. Pemerintah dan DPR diminta bersinergi untuk mengatasi disparitas upah di berbagai daerah.
Isu lain yang turut disampaikan meliputi praktik outsourcing, sistem kerja kontrak, pemagangan, hingga status pekerja harian lepas yang dianggap belum memberikan kepastian dan perlindungan maksimal bagi buruh.
Tak hanya itu, KASBI juga mendesak pemerintah meratifikasi Konvensi International Labour Organization Nomor 188 tentang pekerja sektor perikanan dan maritim, serta Konvensi ILO 190 terkait penghapusan kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.
“Seharusnya pemerintah bisa segera melakukan ratifikasi terhadap konvensi tersebut,” ujar Sunarno.
Sementara itu, perayaan May Day Fiesta di Monas dihadiri Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah aliansi buruh, di antaranya Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia dan Partai Buruh yang dipimpin Said Iqbal, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia di bawah kepemimpinan Andi Gani Nena Wea, serta Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia yang dipimpin Elly Rosita Silaban, dan organisasi buruh lainnya. (red)
