Adalah Dia Diatas Segalanya …

“Anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya, kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar, adalah Dia di atas segalanya
Hohohoo… adalah Dia di atas segalanya.”

(Untuk Kita Renungkan – Ebiet G. Ade)

Demikian tembang legendaris itu berkumandang, lirih namun bergetar, menyatu dengan isak tangis yang pecah di tengah malam. Suara seorang ibu — patah, serak, dan penuh nestapa — menggema lewat sambungan selular saat ia bercerita pada keluarganya. Derai air mata membasahi wajahnya, namun di sela-sela sesaknya napas, nama Allah tetap ia sebut, perlambang keikhlasan yang dipaksa oleh keadaan.

Allahu Akbar… betapa remuknya harapan manusia ketika bencana menggulung tanpa ampun. Dan kita pun bertanya dalam hati: Hikmah apa yang dapat kita petik dari banjir bandang yang baru saja menghantam saudara-saudara kita? Jawabannya, meski pahit, adalah pembelajaran —pelajaran yang menuntut kita untuk merenungkan langkah, membaca tanda-tanda alam, dan berupaya agar ratusan bahkan ribuan nyawa tak lagi melayang sia-sia.

Sebab ketika bencana datang, ia bukan hanya merenggut kehidupan, tetapi juga menyeret lembar demi lembar rupiah yang dibutuhkan untuk memulihkan infrastruktur, mengobati perekonomian masyarakat yang sejak lama sudah rapuh dan kupak-kapik.

Tangis Sumatera Utara

Kini, tangis pilu warga Sumatera Utara menggema ke seluruh Nusantara.
Rumah-rumah hanyut diseret arus deras, barang-barang hilang tersapu lumpur, dan yang paling menyayat, puluhan nyawa melayang.

Bahkan beberapa pihak memperkirakan jumlah korban bisa terus bertambah. Ini bukan sekadar angka—ini adalah ayah, ibu, anak, dan saudara kita. Mereka yang pagi hari masih menata hidup, namun malamnya justru kehilangan segalanya.

Dari sisi ekonomi, wajar jika fokus sebagian rakyat hanya jatuh pada kebutuhan harian. Short term memory — ingatan jangka pendek — lebih cepat terpaut pada isi perut ketimbang ancaman bencana yang belum tentu terjadi. Namun nahas, bencana itu akhirnya tiba, tanpa pernah terdeteksi, tanpa sempat dihindari.

Karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah “langganan” banjir sudah saatnya kembali meneladani kearifan lokal, membaca tanda-tanda alam, dan belajar dari pengalaman para leluhur. Tanda seperti debit air yang tiba-tiba meningkat pernah menjadi pedoman masyarakat tradisional dalam menilai bahaya yang mungkin datang.

Pembelajaran

Pulau Simeulue di Nangroe Aceh Darussalam menjadi contoh berharga.
Orang tua di sana mewariskan petuah tentang “smong”—cara menyelamatkan diri saat air laut tiba-tiba surut atau pasang secara tidak biasa. Berkat tradisi lisan itu, ketika tsunami 2004 menerjang, kawasan yang justru paling dekat dengan pusat gempa memiliki jumlah korban paling sedikit.

Hal serupa terjadi di Bantul, Yogyakarta. Sehari sebelum gempa dahsyat yang menewaskan ribuan jiwa, warga melihat awan cirrus membentang dari utara ke selatan—pertanda alam yang kemudian diingat, namun sayangnya tak banyak dimengerti secara luas.

Ini semua mengajarkan bahwa kearifan tradisi dan ilmu modern harus berjalan beriringan, bukan dipisahkan.

Tanggung Jawab

Pemerintah sudah waktunya menempatkan penanggulangan bencana sebagai prioritas nyata, bukan hanya wacana pasca-kejadian. Masyarakat perlu dibantu untuk membangun konstruksi yang aman, jauh dari zona berbahaya, serta dibekali pengetahuan mitigasi.

Namun sayang, dinamika politik negeri ini sering memecah fokus.
Berita tentang bencana di Sumatera Utara tenggelam oleh perdebatan soal ijazah maupun isu Bandara Private IMIP Morowali. Sementara itu, rakyat masih berjuang mencari makanan ke gerai-gerai sembako — sebab apa lagi alasannya selain lapar.

Tidak berlebihan jika publik mempertanyakan efektivitas resep penanggulangan bencana selama ini. Harus ada dorongan pada para wakil rakyat untuk menuntaskan langkah-langkah strategis yang menyangkut keselamatan warga.

Karena yang terjadi justru sebaliknya: tahun demi tahun banjir tetap datang, namun perbaikan sistem monitoring dan mitigasi berjalan tersendat, hampir stagnan. Padahal, kebijakan yang tepat dapat menyelamatkan harta benda, infrastruktur, bahkan lebih penting lagi — nyawa manusia.

Akhirnya, kita hanya bisa berlapang dada. Banjir, sebesar apa pun kekuatannya dan sebesar apa pun kerugiannya, tetaplah misteri yang hanya Tuhan yang Mahatahu. Tidak ada yang tahu di mana lagi musibah akan “berkunjung”. Namun satu hal pasti — adalah Dia di atas segalanya.( *Drs Jenda Bangun, Wartawan Dan Budayawan )