Di balik hamparan air dan perbukitan Bendungan Lau Simeme, tersimpan peluang yang dapat mengubah wajah pariwisata Deli Serdang. Namun, di antara keindahan panorama dan rencana pengembangan yang disiapkan, ada satu pertanyaan penting: mampukah kawasan ini tumbuh menjadi destinasi kebanggaan daerah yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Bendungan di Kecamatan Biru-biru ini bukan sekadar infrastruktur penyedia air dan pengendali banjir, melainkan juga kawasan yang menyimpan potensi pengembangan wisata alam.
Lebih dari Sekadar Bendungan
Bendungan Lau Simeme dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera II Medan. Infrastruktur bertipe urugan batu dengan inti tegak ini memiliki tinggi 73,5 meter dari dasar sungai, panjang puncak 205 meter, serta luas genangan sekitar 125 hektare.
Data teknis BBWS Sumatera II yang dipublikasikan pada 2024 mencatat kapasitas tampung bendungan sebesar 21,07 juta meter kubik. Pembangunannya dimulai pada 2018 dengan pembiayaan sekitar Rp1,7 triliun sebelum diresmikan Presiden Joko Widodo pada 16 Oktober 2024.
Dalam peresmian tersebut, Presiden menyampaikan bahwa bendungan diharapkan membantu mengurangi risiko banjir, menyediakan air baku, dan mendukung kebutuhan irigasi masyarakat.
Fungsi strategis itu menjadikan Lau Simeme jauh lebih penting daripada sekadar pemandangan alam. Keberadaannya berkaitan dengan kebutuhan air, pengendalian banjir, pertanian, dan potensi energi di wilayah sekitarnya.
Data teknis yang dipublikasikan pada 2024 menyebut potensi penyediaan air baku sebesar 2.850 liter per detik. Bendungan ini juga dirancang mendukung reduksi debit banjir hingga 289 meter kubik per detik melalui sistem early release, sedangkan reduksi hingga 117 meter kubik per detik melalui Kanal Deli–Percut merupakan bagian dari sistem pengendalian banjir terkait.
Selain itu, Lau Simeme memiliki potensi pembangkit listrik minihidro berkapasitas 1 megawatt.
Seluruh fungsi tersebut memperlihatkan besarnya kepentingan publik yang melekat pada kawasan ini. Karena itu, setiap rencana pengembangan wisata perlu berjalan selaras dengan fungsi utama bendungan.
Ketika Panorama Membuka Peluang
Pengisian awal air Bendungan Lau Simeme dimulai pada 17 September 2026. Perkembangan kawasan perairan yang berpadu dengan perbukitan itu membuka peluang bagi kegiatan wisata alam, fotografi, kuliner lokal, dan usaha masyarakat sekitar.
Potensi tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Kegiatan wisata yang dikelola secara baik berpeluang membuka kesempatan usaha, memperluas pasar produk lokal, dan menciptakan lapangan kerja.
Namun, panorama yang menarik belum otomatis menjadikan sebuah kawasan sebagai destinasi wisata yang siap menerima pengunjung secara luas.
Akses jalan, fasilitas dasar, pengelolaan sampah, informasi bagi pengunjung, dan sistem keselamatan merupakan bagian penting dari kesiapan tersebut. Tanpa pengelolaan yang memadai, popularitas kawasan belum tentu berbanding lurus dengan kualitas pengalaman pengunjung ataupun manfaat ekonomi yang diterima masyarakat.
Delapan Komponen Pengembangan
Rencana pengembangan yang dipaparkan Direktur PT Bhineka Perkasa Jaya (BPJ), BUMD Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, Hasruli mengarahkan Lau Simeme menjadi destinasi wisata air dan alam yang aman, tertata, terjangkau, serta berkelanjutan.
Konsep tersebut mencakup delapan komponen utama yakni : gerbang dan pusat informasi. wisata air, jalur trekking dan sepeda, menara pandang, area berkemah dan glamping, sentra kuliner dan UMKM, sdukasi bendungan, festival dan atraksi wisata.
Jika diwujudkan sesuai perencanaan, perizinan, dan ketentuan teknis yang berlaku, komponen tersebut berpotensi menghadirkan pilihan rekreasi sekaligus sarana edukasi tentang bendungan dan pengelolaan sumber daya air.
Meski demikian, rencana harus dibedakan dari fasilitas yang telah selesai dibangun atau diizinkan beroperasi. Kepastian tahapan pelaksanaan penting agar masyarakat tidak menerima gambaran yang keliru tentang perkembangan destinasi tersebut.
Rencana pengembangan juga memerlukan studi kelayakan, penyusunan master plan, pemenuhan perizinan, serta kesepakatan kerja sama dengan BBWS Sumatera II dan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang.
Tahap berikutnya direncanakan mencakup pembangunan fasilitas dasar dan pembukaan secara terbatas, sebelum pengembangan atraksi, akomodasi, edukasi, serta agenda wisata tahunan.
Peluang Besar, Tantangan Nyata
Keberhasilan Lau Simeme tidak hanya ditentukan oleh banyaknya fasilitas yang dibangun atau pengunjung yang datang. Kesiapan pengelolaan, kepastian kewenangan, keselamatan, dan perlindungan lingkungan akan menentukan arah perkembangan kawasan tersebut.
Bendungan tetap harus menjalankan fungsi utamanya. Pembatasan akses ke tubuh bendungan, saluran pelimpah, bangunan pengambilan air, dan zona perlindungan harus mengikuti ketentuan pengelola serta persyaratan teknis yang berlaku.
Pada saat yang sama, peluang ekonomi perlu dirancang agar dapat melibatkan masyarakat sekitar, bukan hanya pihak yang memiliki modal atau akses usaha lebih besar.
Di sinilah pertaruhan masa depan Lau Simeme mulai terlihat. Keindahan alam menyediakan modal awal, tetapi tata kelola dan keterlibatan masyarakat akan menentukan seberapa jauh potensi itu dapat berkembang.
Lalu, bagaimana memastikan kawasan ini tidak sekadar ramai dikunjungi, tetapi juga aman, lestari, dan membawa manfaat nyata bagi warga?
Pertanyaan itu membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar: siapa yang akan memperoleh manfaat dari pengembangan Lau Simeme, dan bagaimana masa depan kawasan ini dijaga agar tidak mengorbankan fungsi bendungan maupun lingkungan? (Bersambung)
