Berita  

Truk Bauksit,TBS dan CPO Diduga Penyebab Debu Cemari Sekolah di Kendawangan

Siswa bergotongroyong mengumpulkan debu dari lingkungan sekolahnya.

Ketapang, MWT – Aktivitas lalu lintas truk pengangkut bauksit, tandan buah segar (TBS), dan crude palm oil (CPO) diduga menjadi penyebab pencemaran udara berupa debu yang menyelimuti kawasan pendidikan di Desa Selimatan Jaya, Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kondisi tersebut dikeluhkan para guru dan siswa karena dinilai telah berlangsung cukup lama tanpa penanganan yang memadai.

Pantauan Media Warta Tipikor di lingkungan TK, SD, dan SMP 6 Staf Desa Selimatan Jaya menunjukkan debu beterbangan hingga menutupi halaman sekolah dan jalan di sekitar kawasan pendidikan. Debu tersebut disebut mengganggu aktivitas belajar mengajar serta dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan peserta didik.

Sejumlah siswa SMP 6 Staf mengaku tidak nyaman belajar karena setiap hari harus berhadapan dengan debu yang masuk ke lingkungan sekolah.

” Debu di lingkungan sekolah sudah berlangsung cukup lama. Kami berharap ada perhatian serius agar kondisi ini segera ditangani,” keluh beberapa siswa yang setiap hari harus mengenakan masker.

Keluhan serupa disampaikan guru SMP 6 Staf, Tabita H.D. Nomleni, saat ditemui di halaman sekolah. Menurutnya, kondisi debu yang terus terjadi menjadi kekhawatiran tersendiri bagi kesehatan anak-anak selama berada di lingkungan sekolah.

“Debu yang terjadi di sekolah ini cukup mengkhawatirkan. Anak-anak setiap hari menghirup debu ketika proses belajar berlangsung,” ujar Tabita.

Ia menjelaskan, Desa Selimatan Jaya, khususnya kawasan SP 8, berada di sekitar sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit serta jalur distribusi menuju perusahaan tambang bauksit yang beroperasi di wilayah Kecamatan Marau dan Air Upas. Menurutnya, aktivitas kendaraan berat diduga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan debu semakin parah, terutama pada musim kemarau.

Tabita menambahkan, dampak debu tidak hanya dirasakan lingkungan SMP 6 Staf, tetapi juga masyarakat di sejumlah desa yang berada di sekitar jalur operasional kendaraan perusahaan.

Siswa terpaksa mengenakan masker demi menjaga kesehatannya atas pencemaran udara beruba debu.

“Kami berharap seluruh perusahaan, baik perusahaan sawit maupun perusahaan tambang bauksit, dapat memberikan perhatian melalui program CSR, khususnya di bidang kesehatan dan pengendalian dampak lingkungan. Tanggung jawab terhadap masyarakat sekitar perlu benar-benar diwujudkan,” tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari perusahaan-perusahaan yang disebut warga maupun instansi terkait mengenai dugaan pencemaran debu tersebut serta langkah-langkah penanganannya.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi lingkungan hidup segera melakukan pengukuran kualitas udara, menelusuri sumber pencemaran, serta memastikan perusahaan yang menggunakan jalur tersebut menjalankan kewajiban pengendalian debu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Pemeriksaan tersebut dinilai penting agar penyebab pencemaran dapat dipastikan secara ilmiah dan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat tetap terlindungi. (Jajir)