Sigumpar, MWT – Sebuah brankas peninggalan misionaris Jerman, Ingwer Ludwig Nommensen, yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun, berhasil dibuka tim HKBP. Dari dalam brankas ditemukan sejumlah dokumen bersejarah, termasuk denah tanah HKBP Sigumpar di Kabupaten Toba yang dinilai penting sebagai bagian dari warisan pelayanan Nommensen sekaligus memperjelas batas dan luasan aset gereja.
Ephorus HKBP Pdt. Victor Tinambunan mengatakan dokumen tersebut memiliki nilai historis sekaligus manfaat praktis bagi gereja. Salah satu temuan utama berupa denah tanah HKBP Sigumpar yang dapat menjadi acuan dalam memastikan batas-batas dan luas aset gereja.
“Ada denah tanah HKBP Sigumpar, Kabupaten Toba di dalam brankas itu. Dokumen ini sangat berguna untuk kejelasan luasan dan batas-batasnya. Itu yang utama yang kami temukan di dalam brankas,” ujar Victor Tinambunan saat dikonfirmasi di Medan, Rabu (1/7/2026).
Brankas yang merupakan peninggalan Nommensen itu dibuka di kawasan Sigumpar pada Kamis (25/6/2026). Proses pembukaan dipimpin langsung oleh Ephorus HKBP didampingi Praeses HKBP Distrik IV Toba serta Pendeta Resort HKBP I.L. Nommensen, Pdt. Antoni Manurung.
Menurut Victor, pembukaan brankas menjadi momen penting karena benda tersebut merupakan saksi bisu sejarah penyebaran Kekristenan di Tanah Batak. Prosesi berlangsung di area makam I.L. Nommensen yang berada di belakang Gereja HKBP I.L. Nommensen, Sigumpar.
Mengingat usia brankas yang sudah sangat tua, kondisi kunci yang tidak lagi berfungsi, serta adanya upaya pembukaan yang pernah dilakukan pada tahun 1990 namun tidak berhasil, tim teknis melakukan pembongkaran secara ekstra hati-hati menggunakan mesin gerinda.
Sebelum proses pembongkaran dimulai, seluruh peserta mengikuti ibadah singkat sebagai ungkapan syukur atas jejak pelayanan pengabaran Injil yang ditinggalkan Nommensen di Tanah Batak.
Setelah pintu baja berhasil dibuka, tim menemukan berbagai dokumen bersejarah yang selama puluhan tahun tersimpan di dalamnya. Arsip tersebut terdiri atas kuitansi kuno, surat-surat lama, serta peta denah wilayah Sigumpar pada masa lampau.
Victor menyebutkan, penemuan dokumen-dokumen tersebut menjadi jembatan penting untuk memahami dinamika pelayanan gereja pada masa perintisan. Namun, seluruh dokumen ditemukan dalam kondisi sangat rapuh sehingga tidak dapat langsung dibentangkan di lokasi guna menghindari kerusakan serat kertas.
Ia menjelaskan, keberadaan brankas tersebut menunjukkan kuatnya akar sejarah pertumbuhan Kekristenan di wilayah Toba. Sejarah mencatat, sejak tiba di kawasan itu pada akhir tahun 1886, Nommensen menjadikan Sigumpar sebagai pusat pelayanan selama sekitar 32 tahun.
Dari Sigumpar, lanjut Victor, Nommensen memperluas misi penginjilan ke wilayah Toba, Samosir hingga Dairi dengan memanfaatkan jalur air menggunakan solu atau perahu tradisional. Pada masa itu kawasan tersebut masih berupa hutan belantara dan belum memiliki akses jalan darat Trans-Sumatera.
Victor juga mengatakan bahwa menyimpan dokumen penting di dalam brankas pada lokasi pelayanan utama merupakan kebiasaan para misionaris pada masa itu sebagai langkah menjaga arsip-arsip penting gereja.
Untuk mencegah kerusakan lebih lanjut, seluruh dokumen peninggalan dari dalam brankas telah diamankan dan dibawa ke Kantor Pusat HKBP. Di lokasi tersebut, proses pembukaan lembaran denah serta pelestarian arsip akan dilakukan oleh tenaga ahli restorasi sesuai standar pengarsipan.
Langkah tersebut, menurut Victor, merupakan komitmen HKBP dalam menelusuri, merawat, dan menyelamatkan bukti-bukti sejarah pelayanan agar warisan I.L. Nommensen tetap terjaga dan menjadi pembelajaran bagi generasi mendatang.
“Warisan ini menjadi saksi bahwa pelayanan yang dibangun dengan iman juga meninggalkan jejak sejarah yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkas Victor Tinambunan. (red)
