Batam, MWT – Satu unit tongkang tua bernomor KPS 1203 SC 4691 hanyut tanpa awak hingga mendekati permukiman nelayan di Pulau Raja, Nongsa, Batam, pada Sabtu (10/1) pagi. Peristiwa ini memicu kekhawatiran warga pesisir karena kapal besar tak terkendali tersebut berpotensi menabrak deretan rumah panggung kayu milik nelayan. Warga pertama kali melihat kapal kosong tersebut sekitar pukul 06.00 WIB saat arus laut dan angin kencang membawa badan kapal keluar dari jalur pelayaran normal.
Penemuan
Nelayan setempat melihat keberadaan kapal besar tersebut saat hendak melaut di pagi hari. Kapal yang diduga berasal dari arah Kabil ini bergerak liar mengikuti arus angin utara yang bertiup kencang ke arah daratan.
Kondisi tongkang yang tidak berpenghuni membuat warga panik karena tidak ada kru yang bisa mengendalikan arah kapal. Puluhan warga kemudian berkumpul di pinggir pantai untuk memantau pergerakan kapal agar tidak menghantam bangunan kayu mereka.
Bahaya
Keberadaan kapal tua ini dinilai sangat membahayakan keselamatan warga dan merusak ekosistem area tangkapan ikan tradisional. Selain risiko benturan fisik, kapal yang hanyut di luar jalur resmi ini mengganggu aktivitas rutin nelayan saat mencari nafkah.
Warga menegaskan bahwa area pesisir Pulau Raja bukanlah jalur lintasan kapal besar, sehingga masuknya tongkang tersebut dianggap sangat tidak wajar. Kekhawatiran kian meningkat karena kapal bisa saja kandas dan merusak infrastruktur dermaga kecil milik penduduk.
Otoritas Terkait
Merespons situasi darurat tersebut, warga segera berkoordinasi dengan pihak Syahbandar Kabil untuk meminta tindakan pengamanan segera. Namun, otoritas pelabuhan sempat menyatakan belum menerima laporan resmi mengenai adanya kehilangan atau lepasnya kapal tongkang.
Saat ini, pihak Syahbandar masih berupaya menelusuri identitas pemilik kapal guna melakukan evakuasi dari area permukiman. Warga berharap kapal tersebut segera ditarik ke tengah laut sebelum menyebabkan kerusakan yang lebih parah di pesisir. (Zul)
