Berita  

Pemdes Secanggang Gelar Rakor Awal Tahun 2026

Secanggang, MWT – Pemerintah Desa (Pemdes) Secanggang, Kabupaten Langkat, menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) awal tahun 2026 pada Jumat (02/01/2026). Rakor tersebut dihadiri seluruh Kepala Urusan (Kaur), Kepala Seksi (Kasi), serta Kepala Dusun (Kadus).

Kepala Desa Secanggang, T. Syaiful Anhar, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh perangkat desa dan Kadus atas sikap serta perilaku yang dirasa kurang tepat dan sempat menyinggung perasaan selama setahun terakhir dalam menjalankan tugas pemerintahan desa.

Selain menyampaikan permohonan maaf, Kades juga memberikan arahan sekaligus informasi terkait penurunan signifikan pagu anggaran Dana Desa (DD) untuk tahun 2026. Anggaran DD Desa Secanggang diketahui turun drastis dari Rp1,564 miliar menjadi Rp373 juta.

Menurut Syaiful, keputusan pemerintah pusat tersebut harus diterima dengan lapang dada. Ia menilai besarnya Dana Desa tidak selalu berbanding lurus dengan manfaat yang dirasakan masyarakat. “Untuk apa DD besar jika tidak bermanfaat bagi warga. Justru sering menimbulkan masalah dalam pelaksanaannya di lapangan karena banyak pengeluaran yang tidak tepat dan harus dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Bahkan secara pribadi, Syaiful menyampaikan pandangannya bahwa Dana Desa kerap menjadi persoalan serius. “Kalau menurut saya pribadi, tak perlu ada DD lagi karena sering jadi bancakan dan membuat kita serba sulit,” tegasnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa penurunan Dana Desa tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti bekerja dan membangun desa. Ia menegaskan bahwa DD bukanlah tujuan pribadinya saat mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Syaiful kembali mengingatkan visi dan misinya sejak awal, yakni membangun desa tempat kelahirannya serta kampung halaman ibunya. Ia optimistis jika seluruh keluarga yang memiliki keterkaitan dengan Desa Secanggang turut berkontribusi, maka dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun ke depan desa tersebut dapat menjadi desa mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada bantuan pemerintah.

Ia juga menyoroti tantangan perubahan pola pikir sebagian warga yang dinilai masih ingin mendapatkan perhatian dengan cara berpura-pura menjadi orang susah. “Yang terjadi saat ini, lebih galak yang pura-pura susah daripada yang benar-benar susah,” katanya.

Mengutip pengalaman masa kecilnya pada era 1960-an, Syaiful mengenang bahwa dahulu tidak ada warga yang berani mengaku miskin. Ia menyampaikan petuah para ulama, orang tua, dan cendekiawan saat itu bahwa ucapan adalah doa. “Jika kita mengaku orang susah padahal mampu, Allah bisa mengabulkan apa yang kita ucapkan,” tandasnya.

Di akhir sambutannya, dengan nada bergetar, Syaiful menyampaikan bahwa peran ulama, orang tua, dan cendekiawan kini telah banyak bergeser oleh perkembangan teknologi. Untuk itu, ia berharap seluruh perangkat desa dapat bersama-sama berbuat yang terbaik demi kemajuan Desa Secanggang. (Mariani)