Air Upas, MWT — Sejumlah siswa SD Negeri 03 dan SMP Negeri 01 Air Upas, Kecamatan Air Upas, Kabupaten Ketapang, mempertanyakan keberadaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program nasional Presiden Republik Indonesia. Hingga awal Februari 2026, para siswa mengaku belum merasakan manfaat program tersebut di wilayah mereka.
Menurut penuturan para siswa, sejak program MBG dicanangkan pada tahun 2025 hingga Selasa (3/2/2026), dapur MBG di Kecamatan Air Upas belum beroperasi. Padahal, informasi mengenai keberadaan dapur MBG disebut sudah beredar dan dikabarkan sedang dalam proses persiapan.
Kondisi ini menimbulkan kekecewaan di kalangan siswa. Mereka berharap program MBG segera berjalan karena dinilai sangat membantu, terutama untuk mengurangi uang jajan harian saat mengikuti kegiatan belajar mengajar dari Senin hingga Sabtu.
Beberapa siswa bahkan sempat menanyakan langsung kepada guru di sekolah mengenai kejelasan program tersebut. Namun, para guru mengaku belum dapat memberikan jawaban pasti karena belum ada informasi resmi terkait pelaksanaan MBG di sekolah mereka.
Para siswa mengaku mengetahui pelaksanaan MBG di kecamatan lain melalui media sosial seperti TikTok dan Facebook. Salah satunya di Kecamatan Manis Mata, yang menurut mereka sudah lebih dulu menikmati program tersebut. Hal itu membuat para siswa di Air Upas merasa iri dan berharap mendapat perlakuan yang sama.
“Kami juga ingin seperti anak-anak di tempat lain. Kami ingin makan bergizi supaya bisa belajar dengan baik dan menjadi orang pintar. Siapa tahu nanti kami bisa membangun kampung halaman kami sendiri,” ujar salah seorang siswa yang enggan disebutkan namanya.
Melalui awak media, para siswa berharap pihak pengelola dan penanggung jawab dapur MBG, baik di tingkat Provinsi Kalimantan Barat maupun Kabupaten Ketapang, tidak hanya memprioritaskan wilayah perkotaan. Mereka menegaskan bahwa anak-anak di Kecamatan Air Upas juga merupakan generasi penerus bangsa yang berhak mendapatkan program tersebut.
Diketahui, Kecamatan Air Upas merupakan wilayah strategis karena berada di jalur lintas Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah serta menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat setempat.
Butuh Jalan Dibanding MBG
Beredar video di media sosial yang memperlihatkan siswa SMP tengah berorasi di sebuah jalan berlumpur di wilayah Pa Kebuan, Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Siswa bernama Gilbert Christian, berorasi mengenai kondisi di wilayahnya yang membutuhkan perbaikan jalan dibanding program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan laporan detikKalimantan, yang dikutip Senin (2/2/2026), aksi siswa kelas 2 SMP Negeri 1 Krayan Timur itu turut didampingi warga dalam aksinya. Gilbert mengatakan, perbaikan insfratruktur lebih mendesak terutama bagi para pelajar di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia di tempatnya.
“Buatkan jalan kami yang layak .Kami lebih membutuhkan perbaikan jalan daripada Makan Bergizi Gratis, ” ujar Gilbert..
Becek dan Berlubang
Mengutip data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), SMPN 1 Krayan Timur terletak di Desa Long Umung. Wilayah sekolah tersebut, menurut laporan detikKalimantan, ditempuh melalui jalan Pa Kebuan dan Long Umung, yang juga tempat Gilbert berorasi dengan kondisi jalan berupa tanah liat becek dan berlubang dalam.
Dalam kesempatan yang sama, warga turut menyampaikan surat terbuka untuk Presiden Prabowo Subianto. Salah satu poinnya yaitu keadilan dalam pembangunan infrastruktur jalan yang bersumber dari APBN.
Seperti di Jawa
Warga juga meminta agar pemerintah hadir secara nyata di lapangan untuk melihat kondisi langsung di Krayan Timur.
“Warga sebenarnya tidak menolak program pemerintah pusat, namun mereka meminta skala prioritas. Hasil bumi kami di Krayan ini melimpah, untuk makan kami rasa cukup. Alangkah baiknya anggaran makan gratis itu kalau bisa dialihkan atau diutamakan untuk membangun jalan dulu. Kami ingin pembangunan yang merata seperti di Jawa,” kata Kepala Desa Pa’ Betung, Aprem Rining.
Terkait aksi yang juga diikuti siswa SMP, ia menyebut murni inisiatif mereka yang selalu melewati jalan rusak untuk ke sekolah.
“Itu inisiatif dari hati nurani mereka sendiri. Setiap hari mereka harus melewati jalan itu untuk ke sekolah, perjalanannya bisa satu jam. Motor sering amblas, bahkan mereka sering harus jalan kaki tanpa sepatu karena lumpur terlalu dalam,” ujarnya. (Jajir)
