Deli Serdang, MWT – Bencana longsor yang terjadi di Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, tidak hanya menyisakan duka, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius terkait kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di wilayah rawan.
Sebanyak enam warga dilaporkan menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Lima orang dinyatakan meninggal dunia setelah tertimbun material longsor yang menghantam rumah mereka, sementara satu korban lainnya mengalami luka-luka dan kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas Medan, Hery Marantika, membenarkan jumlah korban tersebut. Ia menyebut seluruh korban merupakan penghuni rumah yang tertimbun longsoran tanah akibat hujan deras yang mengguyur kawasan itu sejak Selasa malam.
Namun di balik peristiwa ini, muncul dugaan bahwa kawasan tersebut telah lama dikenal sebagai daerah rawan longsor. Minimnya sistem peringatan dini serta tidak adanya langkah mitigasi konkret diduga memperbesar risiko jatuhnya korban jiwa.
Di sisi lain, aparat gabungan dari Brimob, Basarnas, TNI, dan kepolisian telah melakukan evakuasi sejak malam kejadian. Proses pencarian korban berlangsung dramatis di tengah kondisi cuaca buruk dan medan yang sulit.
Kasat Lantas Polrestabes Medan, AKBP I Made Parwita, menyatakan akses jalan yang sebelumnya tertutup material longsor dan pohon tumbang kini telah kembali normal setelah dilakukan pembersihan.
Meski penanganan darurat dinilai cepat, investigasi lapangan mengindikasikan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola kawasan rawan bencana, termasuk pengawasan pembangunan permukiman di lereng-lereng berisiko tinggi.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah daerah terkait langkah jangka panjang untuk mencegah kejadian serupa. Tragedi ini kembali menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak demi keselamatan masyarakat. (tim)
