Kalimantan Barat, MWT – Kondisi jembatan kayu yang menghubungkan Desa Pangkalan Telok dan Desa Tanjung Medan menuju Desa Sebelangan, Kabupaten Ketapang Kalbar kian memprihatinkan. Infrastruktur vital ini menjadi satu-satunya akses keluar masuk warga, namun hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pihak terkait.
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan, jembatan tersebut sudah lama mengalami kerusakan. Struktur kayu tampak lapuk dan tidak lagi layak menahan beban kendaraan maupun pejalan kaki. Saat musim hujan, kondisi semakin berbahaya karena permukaan licin dan arus air meningkat.
Warga terpaksa harus bergantian melintas dengan penuh kehati-hatian. Antrian panjang kerap terjadi, terutama saat aktivitas ekonomi meningkat. Risiko kecelakaan menjadi ancaman nyata yang setiap hari dihadapi masyarakat setempat.
Ironisnya, sejumlah sumber menyebutkan bahwa wilayah tersebut memiliki potensi dukungan pendanaan pembangunan dari pihak swasta. Namun hingga kini, realisasi perbaikan jembatan tak kunjung terlihat. Dugaan lemahnya koordinasi dan minimnya perhatian menjadi sorotan dalam persoalan ini.
Di tengah ketidakpastian, warga akhirnya memilih bergerak sendiri. Informasi terbaru menyebutkan bahwa masyarakat akan melakukan perbaikan secara gotong royong dengan peralatan seadanya. Langkah ini diambil sebagai solusi darurat agar akses transportasi tetap berjalan, meski jauh dari standar keselamatan.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen pembangunan infrastruktur di daerah terpencil. Ketika masyarakat harus mempertaruhkan keselamatan demi mobilitas dasar, peran pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dinilai belum maksimal. (Supardianto)
