Gunungsitoli, MWT — Ratusan anak muda akan menjadi bagian penting dari Festival Literasi Kota Gunungsitoli 2026. Pemerintah Kota Gunungsitoli menggelar kegiatan tersebut selama tiga hari, mulai Rabu, 23 September hingga Jumat, 25 September 2026, di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Gunungsitoli.
Festival yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga selesai itu mengangkat tema “Budayakan Membaca, Perkuat Literasi untuk Membangun Generasi Berkualitas dan Berdaya Saing.” Tema tersebut menjadi pijakan kegiatan untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat budaya literasi di tengah masyarakat.
Wali Kota Gunungsitoli, Sowa’a Laoli, S.E., M.Si., membuka secara resmi Festival Literasi Kota Gunungsitoli 2026. Dalam arahannya, ia meminta seluruh peserta dan pemangku kepentingan tidak menjadikan festival sebatas agenda seremonial.
Menurut Sowa’a, kegiatan tersebut harus menjadi momentum untuk membangun dan memperkokoh budaya literasi di Kota Gunungsitoli. Ia juga mengajak masyarakat menyediakan waktu setiap hari untuk membaca, memperluas pengetahuan dan wawasan, serta terus belajar tanpa berhenti.
Ia menilai kemampuan tersebut semakin penting bagi generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi. Kaum muda, katanya, perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memilah informasi yang benar dan menyesatkan, menghasilkan gagasan, serta menggunakan pengetahuan secara bijaksana.
Menutup arahannya, Sowa’a secara resmi menyatakan Festival Literasi Kota Gunungsitoli 2026 dibuka. Ia berharap kegiatan itu memberikan manfaat besar bagi peningkatan budaya literasi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama membangun Gunungsitoli Hebat.
Ketua Panitia Festival Literasi Kota Gunungsitoli, Feriaman Laoli, S.Sos., yang juga menjabat Kepala Sub Bagian Program pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Gunungsitoli, mengatakan festival tersebut diharapkan menjadi titik penguatan budaya membaca dan kemampuan literasi masyarakat.
Selain itu, kegiatan diarahkan untuk mendorong lahirnya generasi yang berpengetahuan, kreatif, berkarakter, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Panitia menargetkan sedikitnya 600 peserta mengikuti rangkaian festival.
Keterlibatan generasi muda menjadi salah satu perhatian utama panitia. Hampir 90 persen peserta berasal dari kalangan pemuda dan remaja yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, serta pegiat literasi.
Sejumlah agenda turut melengkapi festival, salah satunya talkshow literasi dengan menghadirkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Gunungsitoli, Duta Baca Kota Gunungsitoli, Prof. Dr. Erikson Saragih, S.Pd., M.Hum., Dr. Sadieli Telaumbanua, M.Pd., serta Pdt. Dr. Oineke Natalia Harefa, M.Th.
Panitia juga menyiapkan beragam kegiatan pendukung, mulai dari pameran stan literasi, pemeriksaan kesehatan, donor darah bersama PMI, ruang konseling psikolog, hingga UMKM. Rangkaian acara turut diramaikan berbagai penampilan kesenian dan kreativitas lainnya.
Feriaman berharap festival tersebut dapat berlangsung secara berkesinambungan pada masa mendatang. Namun, keberlanjutan kegiatan tetap disesuaikan dengan ketersediaan anggaran.
Dukungan terhadap kegiatan itu juga datang dari kalangan pendidik. Fidelis Halawa, S.Pd., M.A., Guru UPTD SMP Negeri 1 Gunungsitoli, menilai Festival Literasi Kota Gunungsitoli merupakan langkah positif untuk membangun budaya literasi, terutama di kalangan pelajar dan generasi muda.
Menurut Fidelis, festival menyediakan ruang bagi peserta didik untuk memperlihatkan potensi, memperoleh pengalaman belajar di luar kelas, sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri. Ia menegaskan bahwa keberhasilan gerakan literasi membutuhkan kolaborasi sekolah, guru, peserta didik, orang tua, pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Fidelis juga memandang literasi sebagai investasi bagi masa depan. Karena itu, kebiasaan membaca, menulis, berpikir kritis, dan menghasilkan karya harus tetap dilanjutkan setelah festival berakhir.
Upaya tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi Gunungsitoli yang literat, kreatif, berkarakter, serta siap menghadapi masa depan. Festival dengan demikian diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan berkembang menjadi gerakan nyata yang hidup di sekolah, keluarga, komunitas, dan tengah masyarakat.
Semangat membaca, berpikir kritis, berkarya, serta mencintai budaya daerah juga diharapkan terus tumbuh. Dengan kolaborasi seluruh pihak, budaya literasi di Kota Gunungsitoli diharapkan semakin kuat dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan daerah. (Krisman EF)
