Berita  

Jalan Rusak Bagan Kusik Simbol Janji Tanpa Realisasi

Di tengah harapan warga akan akses layak, jalan menuju kantor desa persiapan di Dusun Bagan Kusik, Kecamatan Manis Mata, justru menyisakan ironi. Infrastruktur yang seharusnya menjadi prioritas pelayanan publik itu kini berubah menjadi simbol keterlambatan, pembiaran, dan janji pembangunan yang tak kunjung terealisasi.

Di wilayah Dusun Bagan Kusik, Desa Asam Besar, Kabupaten Ketapang, kondisi jalan utama menuju kantor desa persiapan memantik keluhan warga. Jalur tersebut bukan sekadar akses administratif, melainkan urat nadi mobilitas masyarakat, termasuk pelajar dari Dusun Bagan Kusik dan Dusun Belian Sunsang yang setiap hari melintasinya menuju sekolah di Kecamatan Manis Mata.

Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan kondisi jalan yang memprihatinkan dan belum tersentuh perbaikan signifikan. Warga menyebut jalan tersebut kerap menjadi “omon-omon”—sekadar wacana tanpa tindak lanjut nyata. Padahal, statusnya sebagai akses utama seharusnya menempatkannya dalam skala prioritas pembangunan desa.

Keluhan semakin menguat saat musim hujan mendekat. Pengendara roda dua mengaku khawatir jalan akan semakin sulit dilalui akibat genangan dan lumpur. Situasi ini berpotensi menghambat aktivitas harian, terutama bagi pelajar yang bergantung pada jalur tersebut.

Dari perspektif kebutuhan publik, jalan ini tidak hanya melayani kepentingan administratif menuju kantor desa persiapan, tetapi juga menjadi jalur vital pendidikan bagi anak-anak TK, SMP, hingga SMA. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan tentang perencanaan dan prioritas pembangunan infrastruktur di tingkat lokal.

Warga juga menyoroti kemungkinan pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), seperti dari PT Harapan Sawit Lestari (HSL) yang berada dalam grup Cargill. Mereka menilai, jika ada kemauan dan koordinasi yang kuat, peluang kolaborasi untuk perbaikan jalan sebenarnya terbuka.

Hingga kini, belum terlihat langkah konkret yang menjawab kebutuhan mendesak tersebut. Warga berharap pemerintah desa maupun pihak terkait tidak menunggu kondisi semakin memburuk sebelum mengambil tindakan. Sebab, bagi masyarakat, jalan ini bukan sekadar akses fisik, melainkan penopang utama aktivitas dan masa depan generasi muda di wilayah itu. (Jajir)