Hari-hari sekolah yang seharusnya dipenuhi semangat belajar berubah menjadi mimpi buruk bagi ratusan siswa di Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menjadi sumber gizi dan harapan, justru diduga membawa petaka massal.
Wartawan Media Warta Tipikor, Jajir dan M Ali Hamzah yang turun ke Marau mengumpulkan informasi dan melaporkan, jumlah korban dugaan keracunan makanan MBG terus bertambah dari hari ke hari. Jika pada hari pertama tercatat sekitar 150 orang, maka hingga hari kedua, Kamis (5/2/2026), jumlah korban melonjak drastis menjadi 370 siswa dan siswi, termasuk guru serta pengurus dapur. Para korban berasal dari tiga jenjang pendidikan, yakni SMP, SMA, dan SMK Negeri 1 Marau.
Dari total korban tersebut, 50 orang masih menjalani perawatan, sebagian di antaranya harus dirawat inap. Dua korban dilaporkan dalam kondisi parah dan dirujuk ke RSUD Agoesdjam Ketapang. Sementara itu, sekitar 320 orang telah diperbolehkan pulang, meski masih dalam pemantauan medis.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, dr. Feria Kowira yang berada di lokasi, membenarkan lonjakan pasien yang masuk untuk penanganan medis. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar korban mengalami mual, muntah, dan lemas setelah mengonsumsi menu MBG yang didistribusikan pada 3–4 Februari 2026.
Menu yang diduga menjadi sumber keracunan berdasarkan pemeriksaan awal antara lain nasi putih, gulai telur, perkedel tahu, tumis sawi putih, serta puding. Sebagai langkah antisipasi, operasional satuan pelayanan pemenuhan gizi di Kecamatan Marau dihentikan sementara, sambil menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG.
Namun, hingga berita ini diturunkan, hasil uji laboratorium tersebut belum dapat dipastikan. Keterangan dari pihak Puskesmas setempat hasil laboratorium, disebutkan dapat diketahui sekitar 14 hari ke depan.
Upaya konfirmasi juga dilakukan kepada pihak kepolisian terkait pengamanan fasilitas MBG. Wartawan media ini telah menghubungi Kapolsek Marau, Ipda Septo Suria, S.H., M.H., melalui pesan WhatsApp terkait hal itu, namun hingga petang tidak ada respon.
Dugaan lemahnya pengawasan program MBG menguat setelah menelusuri dapur MBG yang berlokasi di Desa Riam Batu Gading, Kecamatan Marau. Dapur tersebut diketahui dikelola oleh Yayasan Suria Gizi Lestari (YSGL). Namun, di lokasi dapur tidak ditemukan papan nama resmi yayasan, melainkan hanya spanduk bertuliskan “Makan Bergizi Hak Anak Indonesia”.
Sejumlah orang tua wali murid mengungkapkan kekhawatiran mereka. Menurut mereka, dugaan keracunan ini dipicu oleh lemahnya standar higienis dan sanitasi, terbatasnya tenaga ahli gizi, serta minimnya pengawasan dari BPOM. Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada kualitas bahan baku dan proses pengolahan makanan.
Kisah Pilu
Sebuah kisah memilukan datang dari seorang siswa SMP Negeri 1 Marau. Setelah sempat diperiksa di Puskesmas Marau dan terlihat membaik, siswa tersebut pulang ke kampungnya di Dusun Belatuk, Desa Belaban. Namun sesampainya di rumah, kondisinya kembali memburuk hingga mengalami koma. Warga kemudian meminta agar siswa tersebut segera dirujuk ke RSUD Agoesdjam Ketapang.
Data sementara dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang menyebutkan, korban keracunan berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, SMA, SMK, termasuk guru dan pengurus dapur MBG. Total korban diduga mencapai 370 orang.
Sementara pada hari ketiga, Jumat (6/2/2026), jumlah pasien dilaporkan mulai berkurang. Meski demikian, proses pengumpulan data dan penelusuran penyebab pasti keracunan masih terus dilakukan, sambil menunggu hasil laboratorium resmi.
Tim medis yang dikerahkan untuk menangani pasien itu berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Puskesmas Marau, Puskesmas Jelai Hulu, Puskesmas Suka Mulia, dan Puskesmas Marau.
Selain itu, terpantau di seputaran Puskesmas tampak Camat Marau, Vitalis A. Edison, Danramil Pelda Andy W, Kepala Dinas Kesehatan Ketapang Dr. Feria Kowira, M.M, Kapolsek Ipda Septo Suria, S.H., M.H, paramedis dan kepala Puskesmas Kecamatan Marau serta orang tua siswa.
Di Marau, program yang diniatkan untuk mencerdaskan generasi justru menyisakan luka dan tanda tanya besar. Pertanyaan tentang pengawasan, tanggung jawab, dan keselamatan anak-anak kini menggantung, menunggu jawaban yang pasti. (*)
⇒ Pihak tertentu yang berkenan memberikan konfimasi, penjelasan, masukan serta saran secara tertulis atas produk jurnalistik media ini, sangat diapresiasi. Dapat disampaikan ke WA 0821 1178 8420 dilampiri data pendukung tulisan serta identitas berupa KTP / KTA instansi pemerintah yang resmi. Redaksi akan mempertimbangkan pemuatan tulisan yang disampaikan sepanjang memenuhi kriteria dan perundang-undangan yang berlaku di media.
