Berita  

SPPG Bisukma dan BGN Tapanuli Tanggapi Sorotan Menu MBG

Tarutung , MWTPemilik SPPG Bisukma Tarutung, Erikson Sianipar, bersama Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Tapanuli, S. Lubis, memberikan klarifikasi terkait sorotan publik atas penyajian Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Tarutung, Senin (26/1/2026).

Sorotan tersebut mencuat di media sosial, menyebutkan adanya buah berulat, makanan rusak, serta dugaan ketidaksesuaian kualitas dan kuantitas paket MBG di wilayah kerja SPPG Bisukma.

SPPG Terbuka Terhadap Kritik

Erikson Sianipar menyampaikan apresiasi atas masukan dan kritik masyarakat. Menurutnya, hal tersebut menjadi bahan evaluasi penting untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG di Kabupaten Tapanuli Utara.

Ia menegaskan bahwa setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung bersama Koordinator BGN dan petugas SPPG. Langkah ini dilakukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.

Penguatan SDM dan UMKM Lokal

Sebagai pemilik Bisukma Grup, Erikson menjelaskan pihaknya terus melakukan konsolidasi internal dengan melibatkan pemuda lokal sebagai sumber daya manusia. Selain itu, kemitraan dengan pelaku UMKM juga diperkuat agar mampu memenuhi standar profesional.

Ia mengakui membangun kebiasaan baru yang positif tidak mudah. Namun, Bisukma Grup konsisten menerapkan budaya kerja BETAPATURE sebagai nilai dasar peningkatan kualitas tim internal dan mitra eksternal.

BGN Akui Keterbatasan Personel

Sementara itu, Koordinator BGN Wilayah Tapanuli, S. Lubis, mengakui bahwa viralnya menu MBG terjadi akibat lemahnya pengawasan di lapangan. Ia menyebutkan, pengecekan distribusi akan diperketat hingga ke tingkat sekolah.

Ia juga mengungkapkan keterbatasan jumlah personel, di mana saat ini hanya satu koordinator mengawasi 27 SPPG. Kondisi tersebut telah dilaporkan ke pimpinan pusat untuk penambahan tenaga pengawas.

Data SPPG dan Harga Paket MBG

Saat ini, di Kabupaten Tapanuli Utara telah beroperasi 27 SPPG dari target 37 unit. Program MBG menjangkau sekitar 120 ribu siswa penerima manfaat.

Harga paket MBG ditetapkan sebesar Rp8.000 untuk PAUD hingga SD kelas IV, dan Rp10.000 untuk SD kelas V hingga tingkat SLTA. Seluruh komposisi gizi telah disesuaikan dengan standar Badan Gizi Nasional serta diawasi Dinas Kesehatan.

Alasan Tidak Ada Menu Daging Sapi

Menjawab pertanyaan media terkait ketiadaan daging sapi dalam menu MBG, S. Lubis menjelaskan hal itu disebabkan belum tersedianya rumah potong hewan bersertifikasi di Tapanuli Utara.

Sebagai alternatif, menu diganti dengan daging ayam dan sumber protein lain yang setara secara gizi, sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional. (TU1)